Jumat, 11 Maret 2011
MANUSIA SALJU DARI AFRIKA
Aku terpana oleh bentangan sungai dari mata jelitamu, Salju…
“Assalamu’alaikum!” Zen menyapa gadis putih di hadapannya. Tapi, entah mengapa salam tersebut hanya mengambang di sekitar jilbabnya yang melambai- lambai. Diulangi salam untuk kedua kalinya. Tapi tetap sama. Salam itu mengambang tak ada jawaban.
Tiga hari yang lalu Zen bertemu dengan gadis putih berjilbab itu dalam sebuah seminar kesehatan. Matanya bulat, alisnya tebal, hidungnya mancung, dan yang paling berbeda dari gadis yang Zen kenal adalah kulitnya yang bersinar bagai pualam. Gadis itu mungkin mirip dengan orang- orang Turki yang Zen sempat kenal selama ini. Macam Presiden Direktur tempatnya bekerja atau kakak iparnya. Ya… memiliki kemiripan, tapi sedikit berbeda dari segi perawakan wajahnya.
“Assalamu’alaikum!” Zen mengulangi salam untuk ke- enam kalinya sejak tiga hari yang lalu. Seperti sebelum- sebelumnya dari mulut gadis itu tak keluar sepatah kata apapun. Zen meradang. Pemuda seperempat abad itu menggerutu dalam hatinya.
Dia sebenarnya bisu atau tuli?
***
“Ah, gadis aneh!”
Zen membanting pintu kamar kost-annya. Sontak Teddy, teman satu kamarnya, menjerit kaget.
“Ada apa lagi, Zen?” tanya Teddy usai menenangkan diri sejenak.
Zen diam terpekur.
“Ada apa, oi?”
Zen masih diam terpekur.
“Ada apa lagi? Gadis putih yang lo certain kemarin?” Teddy menerka sekenanya. Zen kemudian membalas dengan desahan pelan.
“Kenapa lagi, sih? Dicuekin?”
“Mmm…”
“Dicuekin aja, frustasinya minta ampun. Wajar aja kalau cewek- cewek begitu sama lo!”
Zen berbalik dan menerawang mata Teddy dalam- dalam. “Maksud kamu?”
“Aduh! Nyadar dong, Bro!” Teddy menepuk kencang pundak Zen yang jelas kelelahan. “Lo tuh kalau suka sama cewek, jangan langsung nyatain!”
“Aku nggak nyatain perasaan aku.”
“Tapi indikasinya ke situ. Cara bicara dan tatapan lo itu polos banget. Jelas sekali kalau lo sepertinya pengen nyatain cinta meski yang lo omongin sekedar salam. Apalagi yang lo buru cewek berjilbab kan? Cewek kayak gitu pengalaman. Tau mana yang gombal.”
“Jadi maksud kamu ucapan salam yang aku omongin setiap ketemu dia sama dengan perbuatan gombal?”
Teddy mengangkat bahunya. “Emang cewek itu sudah meracuni pikiranmu sejauh mana, sih? Sampai- sampai lo kayak orang OD gitu? Bro, masih banyak ceewk lain di Jakarta ini. Lo cari yang berjilbab? Masih banyak kok!”
Zen menggeleng. Dia merasa hanya menginginkan gadis putih itu, meski dia tidak tahu apakah yang dirasakannya sekarang hanya sekedar kagum atau benar- benar cinta. Atau hanya rasa penasaran akan salam yang tak pernah dibalas? Penasaran dengan hati dan pikiran gadis putih itu? Penasaran dengan sosoknya yang lekas lenyap dengan cepat?
Ah… mungkinkah dia manusia salju dan aku Afrika yang tidak akan pernah menyatu selain Allah berkata lain dengan Kun- Fayakun- Nya? Entahlah!
***
“Hey, orang Korea imitasi!” Seorang wanita paruh baya meneriaki dan melemparkan berim- rim kertas cetakan ke hadapan Zen.
“Ada apa, Bu?”
“Ada apa, ada apa? Kamu tahu kerjaan kamu monoton? Semuanya tentang salju, gadis putih, mutiara, apalah! Mana unsur kreatifnya?”
Zen diam terpaku di hadapan Presdir- nya. Dia tak tahu harus menjawab apa.
“Kamu pikir majalah kita berunsur warna putih? Tidak! Majalah kita ini menampung cerita anak- anak remaja masa kini. Kamu mau mengubahnya? Kamu pikir kamu ini siapa?”
“Maaf, Bu!”
“Terus kenapa sekarang kayak gini?”
“Hanya itu inspirasi saya saat ini.”
“Oh… jadi kalau kamu hanya punya inspirasi seperti ini kita harus ikutin? Gitu? Ingat! Kamu di sini hanya seorang penulis cerpen dan ilustrator. Kapan saja saya bisa nendang kamu jadi OB atau yang lebih buruk dari itu, karena di luar sana masih banyak penulis dan ilustrator luar biasa dan tidak pembangkang seperti kamu.”
“Sekali lagi saya minta maaf, Bu!”
“Dengar ya! Mulai hari ini gajimu dipotong 2 %. Kamu juga tidak perlu menulis lagi. Kamu hanya akan menjadi ilustrator. Saya harap tidak ada lagi salju, gadis putih ataupun mutiara seperti ini. Mengerti!”
“Iya, Bu!”
“Dan ingat! Tulisan- tulisan ini harus kamu ganti. Besok semuanya harus sudah tersedia di meja saya. Tak ada putih itu lagi!” Wanita separuh baya itu meninggalkan Zen di kursinya. Mata- mata pun sengaja tidak menoleh memperhatikannya. Barulah setelah wanita separuh baya itu masuk ke dalam ruangannya, aliran simpati mengalir dari segolongan teman Zen yang merasa sempat senasib datang melanda.
Zen tersenyum kecut. Ah… manusia salju!
***
“Lo yakin bisa ngerjain dalam satu malam.”
“Coba- coba, Ted! Siapa tahu bisa.”
Zen melanjutkan pekikan- pekikan jarinya ke tuts keyboard komputer. Kacamata minus tiga yang dipakainya sejak tiga tahun terakhir, sejak dia menjadi penulis sekaligus ilustrator, sesekali melorot oleh lepuh- lepuh keringat dari dahinya.
“Lebih baik lo keluar saja dari majalah itu, Zen! Lo ngelamar di majalah lain saja. Dengan pengalaman- pengalaman lo yang seabrek itu, gue yakin lo bakal diterima di majalah yang lo mau, di majalah yang nggak bakal mengekang inspirasi di otak lo.”
Teddy sekali lagi benar. Namun sayangnya, Zen sama sekali tak berpikir ke sana. Presiden Direktur di tempatnya sekarang telah membantunya susah payah, meski di dua tahun terakhir dirinya menjadi orang asing.
“Shitt!”
Zen membanting keyboard komputernya. Dia mengerang dan menjambak rambutnya yang penuh dengan gel. Matanya sontak berkaca dan gelisah. Di otaknya hanya ada satu alur cerita. Gadis putih atau manusia salju itu mengangguk ketika dia datang melamarnya. Zen bahagia. Dia kemudian berjanji sehidup semati dalam ikatan walimah. Indahnya…
“Zen?! Lo nggak apa- apa kan?”
“Iya. Aku… di pikiranku cuma ada satu cerita tentang dia.”
Teddy mengangkat alisnya. “Gadis putih itu?”
Zen mengangguk.
“Sudahlah. Lebih baik kita ke luar dulu cari angin!”
“Nggak usah, Ted.”
“Kalau gitu kita keluar makan aja. Gimana?”
“Nggak deh. Aku mesan aja.”
Teddy mengangguk. “Kalau gitu lo pesen apa?”
“Gadis putih itu…”
***
Pagi- pagi sekali Zen sudah berada di kantor majalah ‘X’. Pagi- pagi pula serim kertas cetakan diletakkannya di atas meja Presiden Direktur dan di pagi ini pulalah Zen ternganga memikirkan gadis pujaan yang sudah mengganggunya dua minggu terakhir. Manusia salju itu menari- nari riang dan tersenyum hangat padanya. “Will you marry me?”
Uhh… terlalu hiperbola! Salamku pun tak dibalasnya, bagaimana mungkin dia menyatakan demikian?
“Assalamu’alaikum!”
Suara lembut Zen dengarkan dalam sedetik. Dia berbalik. Betapa kagetnya ketika dia mendapati gadis putih yang mengganggunya di balik daun pintu ruangan Presiden Direktur dengan wajah lebih anggun dari yang sudah- sudah.
Mau apa dia ke sini?
Sekerjap- kerjap gadis itu hilang lagi dari pandangan kasat mata. Zen ingin beranjak dari kursi yang didudukinya, tapi diurungkan. Dia malu bila nanti Sang Presiden Direktur memaki dan lagi- lagi mengatainya orang Korea imitasi hanya karena alasan yang tidak jelas lancang masuk ke dalam ruangan itu.
Manusia salju, bagaimana cara kudapatkan jawaban salamku? Hari inikah? Ya… aku harap hari ini.
Semenit berselang gadis putih itu ke luar dari ruanagn bersama Presiden Direktur. Kedua wajah wanita berbeda generasi itu merekah- rekah bahagia. Bahkan Sang Presiden Direktur yang jarang tersenyum itu, tertawa agak lebar. Zen dan pekerja di majalah itu sontak terkaget- kaget.
“Tolong perhatiannya!” Presiden Direktur membuka suara. “Mulai besok saya akan digantikan oleh menantu saya sebagai Presiden Direktur di majalah ini. Saya harap kalian bisa beradaptasi dengan dia. Dan saya juga harapkan kerja samanya untuk membangun majalah kita!!!”
Menantu?
Riuh tepuk tangan sontak memenuhi ruangan tersebut. Tapi, itu sama sekali tak berlaku bagi Zen yang diam terpaku di sudut ruangan. Darahnya seperti berhenti mengalir di pembuluh darahnya.
Ah… manusia salju yang ternyata benar- benar salju yang memang salju dan aku Afrika tidak akan pernah bersatu, meskipun mungkin Allah berkehendak lain dengan Kun Fayakun- Nya.
***
ANOTHER ROMEO AND JULIET STORY
Kamis, 1 Januari 2009
Aku tidak sabar untuk menumpahkan semuanya sekarang. Ok! Pfiuh! Tarik nafas! Biar kurinci satu per satu:
Diary… hari ini aku genap tujuhbelas tahun. Tujuhbelas tahun??! Kamu tahu apa artinya, kan? Aku sudah dewasa! Aku sudah bisa menentukan pilihanku sendiri dengan kata lain, aku bebas. I’m free! I’m free!!!Oh… iya, aku melupakan suatu hal yang membuat hari ini bertambah indah. Mami memberiku New Altis. Ini adalah kado teristimewa yang kudapat di hari pertama kedewasaanku. Aku sangat bersyukur Tuhan menakdirkanku lahir dari rahim Mami. Mami selalu memanjakanku. Baiklah, Aku berjanji akan memberikan yang terbaik untuknya. Apa saja sebisaku. Apa saja… I love you, Mum!!!
***
Jum’at, 2 Januari 2009
Hmm… aku tak bisa memungkiri kata- kata ini: ‘Tujuhbelas tahun itu indah.’ Ya, indah. Malah sangat indah. Di usia ini, aku mendapatkan semuanya. Termasuk cinta. Eits! Bukan cinta yang, yah, bisa dibilang pacar. Bukan cinta seperti itu, tapi cinta dari sahabat dan teman- teman kampusku. Mereka mengadakan surprise party di salah satu cafĂ© terbesar di Bandung untukku. Ternyata ini yang namanya friendship. Indah sekali!
Tapi… kalau boleh jujur, aku menunggu kado dari salah satu orang yang kusayangi. Papi! Ya, Papi! Hingga usiaku menginjak dewasa, Papi tak sekalipun memberiku kado. Ah… sudahlah! Aku tidak boleh secengeng ini! Papi pasti mendoakanku dari sana. Papi kan sudah sangat dekat dengan- Nya…
***
Minggu, 11 Januari 2009
Aku pulang. Bagaimana kabarmu, Diary? Kabarku uring- uringan. Aku ingin menceritakan pengalaman outbound-ku sekaligus menceritakan pertemuanku dengan Ave, tapi aku terlalu capek. Nanti saja, ya?
Night… Diary!
***
Rabu, 14 Januari 2099
Diary, aku tak perlu menceritakan pengalaman outbound-ku. Ada hal yang lebih penting dari itu. Mmm… bisa dibilang hal ini menyangkut kelangsungan masa depanku.
Richa memberiku Formulir Julian Got Talent. Aich… senangnya! Ternyata Julian mencari seorang pemain biola untuk berduet di Konser Perdananya nanti. Audisi dimulai 30 Januari nanti. Aku berharap bisa berduet dengan Si Cakep Julian—oh iya, Ave, cowok yang kusukai di SMA dulu, sekarang jauh dari kata cakep berhubung wajahnya sudah dipenuhi jerawat—
Tapi, wait! Apa aku bisa menang, mengingat aku harus menantang jagoan biola yang tidak sedikit di Indonesia? Kalaupun bisa menang dan menjadi wakil Indonesia, aku masih harus menantang wakil dari negara lain di Asia Tenggara. Nggak mungkin kan, Diary?
***
[Julian]
Friday, January 16th 2009
What should I say? It’s wonderful, Boy! Isn’t it? Ok, thank’s a lot for all to my Lord! I’m happy!
Akhir Agustus nanti adalah Konser Perdanaku di Perancis. Ini kado ketiga yang terindah untukku, setelah sebelumnya aku diberi kepercayaan untuk mengiringi permainan pianis jazz terkenal di Jepang, Choo Yoon-Sung dan ikut mengiringi suara merdu Jang Nara di album ketiganya. Lord, I’m really can’t believe it. Bagaimana caranya berterima kasih atas semua nikmat ini?
Thank’s a lot for all. Thank’s a lot.
***
Sunday, January 25th 2009
Manajer Dan Kwok menelpon beberapa menit yang lalu, menginformasikan bahwa audisi Julian Got Talent mendapat apresiasi luar biasa di Asia Tenggara. Lebih dari 1000 pemain biola professional mengikuti audisi ini. So, I wait you! Semoga yang terbaik akan berduet denganku.
***
Thursday, January 29th 2009
Besok audisi dilaksanakan di beberapa negara di Asia Tenggara. Entah mengapa aku berharap wakil dari Indonesia memenangkan audisi ini. Seperti ada relasi kuat dan seperti ada kontak batin antara aku dan Indonesia. Ah… mungkin aku terbawa emosi karena Bibi Ng memberitahuku bahwa orang yang melahirkanku adalah orang Indonesia. Ya, ibuku—yang pergi jauh sesaat setelah melahirkanku—adalah orang Indonesia. Aku tidak pernah melihat wajahnya bahkan lewat foto, tapi aku yakin ibu adalah wanita yang sangat cantik.
Ah… aku benar- benar berharap wakil Indonesia bisa berduet denganku setelah itu kami akan berbincang tentang Indonesia. Aku tak sabar hari itu tiba.
***
[Jasmine]
Jum’at, 30 Januari 2009
Diary, limabelas menit lagi aku akan naik ke panggung, memainkan biola. Ah… dag-dig-dug rasanya.
***
[Julian]
Wednesday, February 4th 2009
Aku mendapat kabar yang lumayan menyejukkan hatiku yang gersang karena kerinduan mendalam. Kabarnya Indonesia akan mengirimkan wakilnya di Hong Kong nanti. Seorang gadis yang berbakat dan dipastikan bisa menyaingi pemain biola terkenal di dunia. Manajer Dan menyebut nama gadis itu kemarin, tapi aku lupa.
Ah… aku senang mendengar kabar ini. Malah sangat senang. Setidaknya kerinduanku bisa terobati dengan sedikit bercerita tentang Indonesia dengannya nanti.
Ibu… seandainya kau masih berada di sampingku, aku tidak akan seantusias ini?
***
[Jasmine]
Rabu, 25 Januari 2009
Aku mendapat kabar dari guru musikku. Indonesia hanya akan akan mengirim satu perwakilannya. Satu dar sekian ratus kandidat?
Ah… sepertinya aku harus berhenti berharap!
***
Sabtu, 28 Februari 2009
Sialan! Benar- benar sialan! Kalau aku melihatnya lagi, aku akan mencincangnya seperti daging. Lihat saja!
Diary… Si Bento, kamu tahu kan? Ok, dia benar- benar anak yang paling menyebalkan di kampusku. Sekarang dia mencoba mengodaku. Dia mengatakan tepat di depan wajahku, di depan hidungku kalau Julian jelek, sok charming dan sok- sok lainnya. Dia bilang Julian hanya aji mumpung, hanya kebetulan menjadi pianis handal karena ayahnya, Jung Hwa juga seorang pianis handal.
Hallo??? Aku tidak salah dengar kan? Atau mulut Si Bento itu sudah aus? Bisa jadi! Tak mungkin kan seorang Julian Hwa itu jelek, sok charming, dan sebagainya. Jika Julian jelek, tidak mungkin dia menjadi model Men’s Uno. Selanjutnya. Tidak mungkin, kan, Julian mengekor nama besar ayahnya, secara Julian baru memperkenalkan ayahnya setelah tiga tahun terkenal sebagai pianis berbakat-termuda-di-dunia.
Well, yang paling menyebalkan, Si Bento mengatakan dia jauh lebih ganteng dari Julian. Hahaha… berkaca di poster Asthon Kutcher, bro?
***
[Julian]
Tuesday, March 17th 2009
Sebentar lagi perwakilan dari beberapa negara di Asia Tenggara diumumkan, berarti sebentar lagi malam puncak akan dilaksanakan dan itu juga akan sama artinya aku akan bertemu perwakilan dari Indonesia.
Pfiuh… sepertinya aku lebih tegang menunggu hari pertemuanku dengan perwakilan Indonesia dibanding tegang karena memikirkan konsep di Konser Perdanaku nanti. Aneh sekali kan, Boy?
***
[Jasmine]
Rabu, 18 Maret 2009
AAAAAAAA… AAAAAAAAA… AAAAAAAAA…. Aku tak tahu harus bilang apa. Guru musikku memberikan sebuah amplop padaku tadi sore. Isinya pengumuman audisi kemarin. Kamu tahu apa hasilnya???? Aku lulus, Diary! AKU LULUS!!! Aku satu- satunya wakil Indonesia yang ikut ke Malam Puncak dan akan menantang wakil dari Asia Tenggara lainnnya.
God, what should I say?!
***
[Julian]
Tuesday, March 31st 2009
Ayah membuang semua peralatan dan kamus- kamusku. Ayah marah besar ketika tahu aku mempelajari Bahasa Indonesia dari Manajer Dan Kwok. Ayah tak ingin aku jatuh ke lubang yang sama. Lubang apa? Bukankah ayah seharusnya senang aku mencintai tempat kelahiran ibu? Atau… ibu telah mengkhianati ayah dan sebenarnya ibu belum meninggal? Lalu ke mana ibu?
***
[Jasmine]
Kamis, 9 April 2009
Aku baru tahu di rumah ini terdapat gudang bawah tanah. Mami tidak pernah bercerita tentang ruangan ini, dengan kata lain Mami menyembunyikannya dariku. Saat aku bertanya, Mami malah memarahiku. Mami marah besar, apalagi ketika tahu aku berani menyentuh piano yang begitu elegan—yang sebenarnya tak layak disimpan di dalam gudang— dan mencoba memainkannya.
Ada apa sebenarnya? Mengapa Mami harus semarah ini dan tiba- tiba melarangku mengikuti audisi ini?
***
Sabtu, 16 Mei 2009
Huh… nyaris sebulan aku mengacuhkanmu, Diary. Tapi aku tidak bermaksud seperti itu. akhir- akhir ini aku harus mengikuti latihan full time. Tak ada waktu lagi untuk menumpahkan seluruh uneg- uneg di hatiku. Juga tentang kemarahan Mami yang belum reda. Maaf ya! Aku berjanji tidak akan begini lagi. Smile ^_^
***
Rabu, 3 Juni 2009
Aku sudah membuat keputusan. Aku ingin menjadi pemain biola yang terkenal seperti yang kuimpikan sejak kecil. Lima belas menit lagi, kita terbang ke Hong Kong, Diary. Kita perlihatkan pada Mami, keputusan ini tidak salah!
***
[Julian]
Friday, May 29th 2009
Sebentar lagi aku akan terbang ke Hong Kong, terbang seminggu lebih awal untuk menemui perwakilan dari Asia Tenggara sekaligus berlatih di sana. Aku tak bisa lagi latihan di tempat ini. Aku tak bisa fokus. Ayah masih murka melihat keantusiasanku dengan Indonesia. Ini merusak konsentrasiku.
***
Friday, Juny 5th 2009
Sudah seminggu aku di sini dan melewati hari- hari tanpa hal yang berarti selain latihan keras yang menguras tenaga. Aku juga belum melihat wakil dari Indonesia itu. Ke mana dia?
***
[Jasmine]
Selasa, 9 Juni 2009
Lihat apa yang kudapat hari ini! Si Julian itu benar- benar orang yang sok charming dan sebagainya, persis seperti yang dikatakan Bento padaku. Kau tahu, Diary? Dia membentakku di depan orang banyak hanya karena tidak sengaja menumpahkan kopi ke atas pianonya. Aku minta maaf tapi dia tidak terima. Ya… sudah! Dasar arogan!!!
***
[Julian]
Tuesday, Juny 9th 2009
Cih! Aku benar- benar bodoh sudah seantusias ini menunggu wakil dari Indonesia itu. Dia ternyata orang yang sangat ceroboh. Lihat! Dia menumpahkan kopi ke atas piano kesayanganku. Bagaimana jika piano itu rusak? Apa bisa dia mengganti piano keluaran satu- satunya di dunia itu?
***
[Jasmine]
Kamis, 11 Juni 2009
Seandainya aku belum mengetahui sifat asli seorang Julian, aku pasti akan senang dan sangat berterima kasih pada Angela—penata rias Julian—yang mengatakan aku sangat mirip dengan Julian, mengatakan kami bagai anak kembar dan di Indonesia itu berarti kami jodoh. Tapi sayang, aku tidak sudi disandingkan dengan lelaki super-cool-yang-tidak-menyenangkan-seperti-itu.
***
[Julian]
Friday, Juny 12nd 2009
Kemarin Angela mengatakan bahwa mataku, bibirku—bahkan parahnya—wajahku, sangat mirip dengan Jasmine. Ok, aku sekarang tahu nama wakil dari Indonesia itu. Ah… itu adalah fitnah besar yang pernah kudengar. Tidak mungkin aku mirip dengannya yang berwajah eighties. Jauh beda.
Mmm… tapi, sepertinya mata Jasmine memang mirip denganku. Menurutmu, Boy?
***
Monday, Juny 15th 2009
Hubunganku dengan Jasmine sepertinya tidak akan membaik. Gadis itu sangat menjengkelkan. Melihat batang hidungnya saja, membuatku nyaris tewas. Mengapa Tuhan harus mengizinkan orang seprti itu hidup di dunia ini?
***
[Jasmine]
Sabtu, 20 Juni 2009
Aku ingin pulang, Diary. Aku sudah tidak tahan. Julian bisa membunuhku pelan- pelan. Aku benar- benar sangat membencinya. Huh… mengapa Tuhan harus menciptakan orang seperti dia?
***
[Julian]
Monday, Juny 22nd 2009
Hari ini Jasmine tidak ikut latihan. Dia kecapekan dan tidak bisa bangkit dari tempat tidurnya. Angela yang memberitahuku. Akhir- akhir ini Jasmine juga sering menangis. Dia merindukan Indonesia atau aku sudah terlalu keras kepadanya? Ah… Boy, mengapa aku harus merasa bersalah seperti ini?
***
Monday, Juny 22nd 2009
Aku baru saja mengunjungi Jasmine di kamarnya. Tak ada seorang pun yang melihatku karena kuyakin mereka sudah terlelap setelah latihan panjang dan melelahkan beberapa jam yang lalu. Aku tidak tahu apa yang menarikku ke kamar Si Ceroboh ini?
Aku hampir lupa sesuatu, Boy. Waktu kukunjungi tadi Jasmine juga tertidur pulas dan kau harus tahu… wajahnya sangat damai dibanding ketika dia terjaga dan melakukan hal- hal bodoh. Mmm… aku akui, Tuhan tidak salah menciptakan makhluk indah sepertinya.
Hey, aku sedang tidak jatuh cinta kan?
***
[Jasmine]
Selasa, 23 Juni 2009
Aku bangun dengan tubuh yang diselimuti dengan hangat. Aku tidak ingat aku menyelimuti diriku sendiri atau tidak, yang jelas aku tidak pernah mengingat ada selimut seperti ini di kamarku. Dan… obat flu ini? Siapa pula yang menyimpannya di sampingku? Tidak mungkin kan dia datang sendiri ke sini?
***
Senin, 29 Juni 2009
Ayah Julian datang ke tempat latihan kami. Aku berusaha bersikap baik pada ayahnya saat bertemu. Tapi, Jung Hwa, tidak menanggapiku malah membentakku, melarangku mendekati Julian. aku nyaris menangis di depannya. Untung Julian segera membawaku pergi dan menenangkanku, menutupi wajahku yang banjir airmata. Ah… ayah dan anak ini, tidak memiliki gen arogan kan?
***
Rabu, 1 Juli 2009
Sebentar lagi aku akan naik ke atas panggung. Hatiku masih dag… dig… dug, tak ubahnya di JCC dulu. Hanya saja beban kali ini lebih berat. Selain harus menantang pemain biola professional, aku juga harus memenuhi permintaan Julian. Diary… sebelum ke Gran Hotel Yen San ini, Julian menemuiku, menggenggam jariku dan mengatakan: ‘Kamu harus menang. Untuk aku.’
***
[Julian]
Wednesday, July 1st 2009
Malam Puncak baru saja berakhir. Tahu, Boy? Jasmine keluar sebagai pemenang. Dia berhak berduet denganku di konser perdanaku nanti. Tapi… sesaat setelah namanya disebut, dia jatuh tak sadarkan diri. Ada apa dengannya?
***
Tuesday, July 7th 2009
Sudah seminggu Jasmine tak sadar. Dokter mengatakan Jasmine terkena kanker otak. Aku tidak tahu harus berbuat apa selain menangis mengharapkan kesembuhannya. Ya… hanya itu yang kulakukan.
***
Sunday, July 12nd 2009
Ibu Jasmine datang ke Hong Kong. Manajer Dan Kwok yang menghubunginya. Wanita paruh baya itu menamparku sesaat setelah dia masuk bersama ayah. Awalnya aku tidak mengerti. Tapi setelah wanita itu memelukku penuh kerinduan dan mendapati ayah yang menatapku nanar dari sudut ruangan, aku mengerti. Ini pertanda buruk.
***
Sunday, July 19th 2009
Apa yang kutakutkan terjadi. Ayah memperlihatkanku sebuah foto yang nyaris membuatku mati muda. Itu foto ayah bersama seorang wanita yang tak asing bagiku. Mereka menggendong sepasang anak kembar. Kau tahu siapa mereka, Boy? Itu aku dan Jasmine. Kami… kami saudara kembar.
God, betapa bodohnya aku telah mencintainya.
***
[Jasmine]
Selasa, 21 Juli 2009
Julian datang dan dia yang pertama kali kulihat saat aku membuka mata. Dia datang bersama ayahnya. Ah… tahu tidak, Diary? Ayahnya juga sudah berubah. Mungkin dua makhluk ini memiliki gen berkepribadian ganda? Hahaha…
Eh? Julian memberikanku sebuah gaun putih dengan halterneck yang sangat indah. Dia memintaku memakainya di Konser Perdananya nanti. Aku senang. Sangat senang. Tapi, itu tidak berangsur lama setelah Julian membisikkan sesuatu di telingaku: ‘Aku mencintaimu tapi kita tidak mungkin bisa bersama.’ Saat kutanya, apakah itu karena itu karena orang tua kami, dia berkata iya.
Ah… aku tidak menyangka akan bernasib sama dengan Juliet yang tidak akan bersama dengan Romeo. Mengapa nasibku jadi begini?
***
[Julian]
Sunday, July 26th 2009
Aku tidak bisa memandang Jasmine dengan sackdress halterneck yang kuberikan padanya. Aku tidak bisa berduet dengannya lagi. Tidak bisa. Sama sekali tidak bisa. Bukan ayah dan ibu yang memisahkan kami, tapi Tuhan. Ya… Tuhan memanggilnya, kembali ke pangkuan- Nya. What should I do? Nothing.
Baik- baik di sana twinkle star. Aku mencintaimu. Semoga Tuhan memberikan kita kehidupan kedua, di mana aku bukan lagi kakakmu. Saranghae, Jasmine…
***
Selasa, 08 September 2009
Aku Tak Tahu Di Mana
Minggu, 26 April 2009
My Beloved Brother, For You...
Sekarang aku hanya bisa menangis, menyesali sebuah abjad kerinduan yang tersusun rapi dalam hatiku. Aku ingin berteriak, tapi dia telah terbenam menjadi gundukan tanah. Panah pesakitan telah menghujamku di bawah keharuman kamboja rumah terakhirnya. Kuakui kusalah tak membaca tanda dalam seminggu sebelum kepergiannya dan kuakui kusalah, kumencintainya, tapi tak punya kekuatan untuk mencium saat terakhirnya.
Aku Mundur!
Pertemuan kita memang singkat. Terlalu. Hanya empat kali bertatap wajah. Aku ingat di pertemuan terakhir itu aku mulai merasakan perasaan cinta meskipun tak terurai sepenuhnya. Kupandang kau sebagai lelaki yang berprinsip kuat atas pendapatmu, berprinsip kuat atas argumen yang keluar dari neuron sarafmu. Kuakui itu yang mebuat kucinta. Tapi… ada Allah. Dia yang mengatur cinta ini lagi- lagi kandas sebelum masuk musim semi. Ini takdirku yang berkata. Tak kusesali. Kuambil hikmahnya. Mungkin pertemuan yang terlalu lama bisa membuatku zina hati karena kuyakin kau pulalah yang menjadi sosok bayangan yang selalu mengganggu tidurku. Kuresapi… akhirnya hanya kutatap kau dari kejauhan. Tak ada yang tahu. Kututup semua dengan jala kabut. Dan hari ini… ketika seorang sahabat yang kucintai mengakui perasaannya tentangmu, aku menangis. Aku ingin merobek jala itu dan menyatakan padanya bahwa aku yang pertama mencintaimu. Tolong!!! Tapi, sayang bibir ini mangatup kelu. Aku mundur dengan perasaan dan tatapan dari jauhku. Aku mundur. AKU MUNDUR!!!
Berbahagialah dengan memoriku. Berbahagialah dengannya yang sempat kucintai. Barakallahu! Berbahagialah cinta pertamaku... Berbahagialah bersama sahabatku...
Untittled
I Say...
tapi alam tak memberiku waktu untukku mengungkapkannya
tapi alam tak memberi waktu untukku melelehkan kebekuan kata
di balik bibirku
Aku merindukanmu,
tapi alam tak memberi waktu untukku meneriakkannya
tapi alam tak memberi waktu untukku menjelaskan bahwa:
perasaan ini sudah sangat lama
sangat lama!
mungkin jauh sebelum Adan dan Hawa diciptakan!
Dan Kukatakan...
tapi mungkin kau tak tahu
bahkan Batara Kamjaya dan Dewi Ratih pun tak tahu
mengapa?
karena semua kubenam jauh dalam lautan
karena semua kutanam jauh dalam lapisan tanah
karena semua telah kuterbangkan jauh bersama burung- burng manyar
Aku mencintaimu, terlalu
tapi kau tak sadar
mungkin hanya Gusti Allah yang sadar
mangapa?
karena aku mengerti, aku ini bukan Sinyok Mangkunegara
karena aku totok
aku sejati, bukan bangsawan peranakan
aku abdimu
tak mungkin terpandang
tak mungkin sejajar denganmu yang sempurna
kau adalah DEN RARA’
Minggu, 05 April 2009
Aku mungkin bodoh! Itu yang kupikir saat mengingat kenangan lima tahun yang lalu. Ya... mungkin terlalu lugu untuk memahami bahwa kau sebenarnya cinta. Afwan! Bukannya aku tak mencintaimu, tapi semua tak kubaca dari kelakuanmu yang sering salah tingkah. Kuakui kau lelaki yang hadir begitu saja tanpa kuduga. Seperti menyelip berliku. Kau langsung di hadapanku. Tatapan pertama di hari itu membuatku bergidik, ini bukan perasaan biasa, ini apa yang tetua kita sebut sabagai makna sakral, CINTA! Tapi, sekali lagi mungkin aku yang terlalu bodoh dan lugu. Aku mengingkari semuanya.Kita punya kesenangan yang sama. Kau pandai merajut kata dan aku bahagia mengenalmu. Ujung kata, kita jalin hubungan tanpa status ini dalam sebuah tulisan tangan. Kita bertukar surat yang penuh dengan kata puitis. Kita berharap salaing mengoreksi tulisan, padahal sebenarnya kita salang mengagumi lewat itu. Kita berkhayal sang empunya tulisan berada di hadapan kita masing- masing. Aku ingat semuanya kan? Hah... bagaimana mencucinya, apalagi sekarang kau kembali mengetuk meski dalam kisah yang berbeda.
Aku tak ingin membukukan kenangan yang terlalu banyak dalam periode Asmaraloka-ku. Cukup kukenang dalam hati. Kukenang saat aku menangis ketika kau singgung, kukenang ketika kau bertukar sua dengan alinea kata maaf, kukenang suara lembutmu yang selalu membuat bibirku kelu untuk berkata tidak.
Afwan, kuungkap ini. Bukan ingin menumbuhkan sinyal- sinyal yang dulu nyaris dibangun. Aku hanya ingin mengenang sosok yang karena kecerobohanku, kusakiti hatinya, karena kecerobohanku kuhancurkan perasaanku sendiri. Jangan memaksaku untuk segera mencuci semuanya. Kau yang pertama...
Selasa, 24 Maret 2009

aku tak pernah meminta lebih pada Tuhan
karena aku tahu apa yang diberikannya sudah lebih dari cukup,
lebih dari usaha yang telah kulakukan
tapi... seandainya Tuhan memberiku kesempatan
maka, satu yang kupinta
aku ingin membahagiakan seseorang,
aku ingin membahagiakan seseorang yang sosoknya lebih pahlawan tak dikenal,
lebih dari sekedar pahlawan revolusi,
lebih dari sekedar pahlawan tanpa tanda jasa
setiap detik- detik nafas terakhir kudedikasikan untuknya
untuk... MAMA!
Selasa, 17 Maret 2009
Bila Cinta Terlanjur Datang

Cinta... cinta mengapa kamu begitu cepat datang tapi sulit banget untuk kubuang dari hati? Kok kamu juga buat aku jadi linglung sampai- sampai rela datang ke sekolah jam 5 pagi dan nyaris tenggelam gara- gara liatin wajah sendunya lagi makan naskun sambil ngangkang? Dan mengapa kamu selalu menyusun rindu di hati bak Marthen Kanginan yang selalu kangen nyiptain buku?
Eits... gila benar, ternyata cinta itu benar- benar nggak mandang siapa. Dia nyerobot aja nyuntikin dia punya virus. Tapi tenang aja, selagi kita megang teguh yang namanya iman, Insyaallah kita nggak bakal goyah diserang gitu- gituan. Mikir deh bagi teman- teman sekalian, cinta itu sebenarnya nggak salah. Cinta itu adalah kodrat ( hakiki ) umat manusia. Tapi kita salah gunakan tuh hakiki yah... jadinya seperti zaman sekarang. Hakiki itu terurai menjadi hakeke- keke. Kita seenaknya lebur tuh cinta jadi kenikmatan sesaat lewat apa yang namanya pacaran. Punya otak nggak sih???? Pacaran itu lebih banyak mudharat daripada manfaatnya. Example story above it! Pengen contoh lain? Dari kehidupan nyata? Dari survei? OK! Coba pikirkan dan cerna baik- baik! Pernahkah sepanjang kehidupan percintaan yang mendekati zina itu membuat kamu, pecinta pacaran nggak pernah nangis? Jangan bohong! Pasti pernah kan? Untuk apa juga? Yang menjadi pertanyaan yang seharusnya dijawab adalah pernahkah kamu, sekali lagi buat pecinta pacaran, menangis karena Allah? Menangis mengingat segenap anugerah terindah yang diberikan- Nya? Lalu pernahkah kamu menangis mengingat perjuangan Rasulullah, sirahnya? Padahal tanpa perjuangannya beserta para sahabat, kita tak akan mengecap keindahan hidup. Kita bakal kekal dalam kejahilian. Rasulullah berjuang di jalan Allah tanpa memikirkan hidup demi umatnya. Pernahkah kamu melihat kekasih yang kau sebut sejati memperjuangkanmu dari kebatilan? Paling juga lari seperti kebiri yang dijepit berton- ton jarum.
So, wahai saudariku yang berbahagia, jangan lebur tuh cinta jadi salah. Buat ia bermakna. Kalau aku bilang sih berdoa aja bila cinta itu datang. Gini nih (hehehe…):
“Ya Allah cintakanlah aku padanya, padanya hamba- Mu yang senantiasa tawaddu dan berserah diri pada- Mu, selalu khusyuk pada- Mu, selalu mengingat- Mu di kala temaram hatinya terang dan kelabu. Ya Allah… takdirkanlah aku pada umat- Mu yang Engkau sayangi agar Engkau dapat mencintaiku pula, takdirkanlah aku pada umat- Mu yang selalu menggemakan qalam- Mu. Ya Allah… jaga cinta hakiki ini hingga nafas terakhirku. Sesungguhnya cinta sempurna hanyalah kepada diri- Mu.
Aloina

Saat kutiba kau terbenah dalam ilusi
terpapah dalam mega- mega cinta
dan kau adalah perawan berkerudung jingga,
gapailah jemariku kemudian rebahkan selendangmu
dalam sangkar nadiku.
Masa silam,
dulu kau dan aku...
meninggalkan pembaringan kenangan
yang tak akan bengkit
meski angin datang menampar
meski badai datang mengamuk
kerana kenangan itu bagai benang tanpa ujung uraian.
Aloina...
bayang- bayangmu kembali merekah
di balik cadar keindahan
tanpa kesombongan, tanpa kemunafikan
Aloina...
sudikah kau asapi semestaku?
From Here
Semua berakhir di sini
benciku padamu, wahai penjerat aristokrat berawal dari sini
cintaku padamu, wahai Sinyok Mangkunegara juga berakhir di sini
DI SINI!
Dalam gumpalan darah yang tetua kita sebut sebagai hati
Dalam gumpalan darah yang sutradra sebut sebaga pembohong
karena saat itu benci membohongi cinta,
cinta membohongi kasih,
dan kasih membohongi dendam
Semua menutup- ditutupi
bagai aturan yang hilang tercampur dalam adukan telur
tanpa arah, tanpa jalan
berkecamuk serak dalam gempita
Pecinta Semu
punya seribu keinginan menjadi pecinta sejati
tapi ada Pencipta
yang punya jutaan kehendak.
Kita pecinta,
punya jutaan hasrat menjadi pecinta abadi
tapi ada Pencipta
yang punya milyaran Kun- Fayakun.
Kita pecinta,
tapi tak bisa bersatu.
Kita pecinta,
tapi tak bisa terkabul.
Kita pecinta,
datang bertatap muka
tapi berpisah punggung pun tak terlihat
Kita pecinta dalam gempita gulita
Kita pecinta dalam angan- angan saja...
Kamis, 26 Februari 2009
Doa Cinta Sejati

jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada- Mu, agar bertambah kekuatanku untuk mencintai- Mu.
Ya Muhaimin,
jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku
pada- Mu
Ya Allah,
Engkau Maha Mengetahui bahwa hati- hati ini telah berhimpun dalam cinta kepada- Mu, telah berjumpa dalam taat kepada- Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada- Mu, telah berhimpun dalam cinta kepada- Mu, dan telah berpadu dalam membela syariat- Mu
Kokohkanlah Ya Allah ikatannya,
bekalkanlah cintanya dan tunjukanlah jalan- jalannya. Penuhilah hati- hati ini dengan Nur- Mu yang tiada pernah akan pudar. Lapangkanlah dada- dada kami dengan ma’rifat kepada- Mu dan keindahan bertawakkal kepada- Mu.
Nyalakanlah hati kami dengan ma’ rifat kepada- Mu
matikanlah kami dalam syahid di jalan- Mu.
Ya Allah,
kuatkanlah azzam di hati ini untuk arungi bahtera suci nan mulia lalui jalan panjang anai dan duri.
Sabtu, 21 Februari 2009
Al Qur'an dan Fakta Medis
Sungguh banyak
ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang pengobatan. Karena bagaimanapun juga,
selain sebagai pegangan hidup, al Qur’an diturunkan sebagai penawar dan rahmat
bagi orang-orang mukmin,
Dan kami
turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang
yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim
selain kerugian. (QS.17:82
(yaitu)
orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
(QS.13:28)
Beberapa ahli
tafsir menyatakan bahwa nama lain al Qur’an adalah asy syifaa’ yang artinya
secara bahasa adalah obat penyembuh.
Hai
manusia, Sesungguhnya Telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS.10:57)
Selain
menerangkan pengobatan, al Qur’an juga menceritakan tentang keindahan alam
semesta yang bisa kita jadikan sebagai sumber untuk membuat obat-obatan, subhanAllaah.
Dia
menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur
dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS.16:11)
Kemudian
makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang
Telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang
bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi
manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda
(kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS.16:69)
Sangatlah
jelas apa yang diterangkan al Qur’an, sehingga orang yang merenungi ayat-ayat
diatas pastilah akan merasakan ketenangan jiwa ketika membaca al Qur’an. Selain
itu, pegangan kita sebagai seorang muslim adalah al Hadits, banyak pula hadits
Rasulullaah saw yang menerangan keutamaan membaca, menghafalkan, bahkan
mempelajari al Qur’an.
“Sebaik-baik
kalian adalah orang yang mempelajari al Qur’an dan mengajarkannya” (HR.
Bukhari)
“Siapa saja
yang disibukkan oleh al Qur’an dalam rangka berzikir kepadaKu, dan memohon
kepadaKu, niscaya Aku akan berikan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang
telah Aku berikan kepada orang-orang yang telah meminta. Dan keutamaannya Kalam
Allah daripada seluruh kalam selainNya, seperti keutamaan Allah atas
makhlukNya” (HR. at Tirmidzi)
“Tidaklah
suatu kaum berkumpul disalah satu ‘rumah’ (masjid) Allah, mereka membaca al
Qur’an dan mempelajarinya, kecuali turun kepada
mereka ketenteraman, mereka diliputi dengan rahmat, malaikat menaungi mereka
dan Allah menyebut-nyebut mereka pada makhluk yang ada disisiNya” (HR. Muslim)
“Hendaklah
kamu menggunakan kedua obat-obat: madu dan al Qur’an” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu
Mas’ud)
Sungguh, masih
banyak lagi dalil yang menerangkan bahwa berbagai penyakit bisa disembuhkan
dengan membaca atau dibacakan ayat-ayat al Qur’an.
Syaikh Ibrahim
bin Ismail dalam karyanya Ta’lim al Muta’alim (sebuah kitab yang mengupas tata
krama mencari ilmu) menyatakan, “Terdapat beberapa hal yang menyebabkan
seseorang kuat ingatan dan hafalannya. Diantaranya, menyedikitkan makan,
membiasakan melaksanakan ibadah shalat malam, dan membaca al Qur’an sambil
melihat kepada mushaf.” Selanjutnya, ia berkata, “Tak ada lagi bacaan
yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada
seseorang kecuali membaca al Qur’an.”
Malik Badri
melaporkan hasil penelitian Al Qadi di Florida, Amerika
Serikat. Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa hanya dengan mendengarkan
bacaan al Qur’an, seorang muslim, baik mereka yang berbahas Arab mauppun yang
bukan, mampu merasakan perubahan fisiologis yang besar, seperti penurunan
depresi, kesedihan, bahkan dapat memperoleh ketenangan dan menolak berbagai
macam penyakit. Penemuan Al Qadi ini diperoleh dengan bantuan peralatan
elektronik mutakhir untuk mendeteksi detak jantung, ketahanan otot, dan
ketahanan kuit terhadap aliran listrik. Penemuan ini menunjukkan bahwa bacaan
al Qur’an berpengaruh besar (hingga 97%) dalam memberikan ketenangan dan
penyembuhan penyakit.
Kesimpulan
hasil uji coba tersebut diperkuat oleh penelitian Muhammad Salim yang
dipublikasikan oleh UniversitasBoston
. Objek penelitiannya
terhadap
lima
orang sukarelawan yang terdiri dari tiga pria dan dua wanita. Kelima orang
tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi
tahu bahwa yang akan diperdengarkan adalah al Qur’an.
Penelitian
yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan al
Qur’an secara tartil, dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari al Qur’an.
Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan
bacaan al Qur’an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan
bahasa Arab yang bukan dari al Qur’an.
Al Qur’an juga
memberikan pengaruh yang besar jika diperdengarkan kepada bayi, daripada
memperdengarkan dengan musik klasik. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati
dariMalaysia
dalam “Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam” di
Malaysia
pada tahun 1997. Menurut peneltiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya
diperdengarkan ayat-ayat al Qur’an dari tape recorder menunjukkan respon
tersenyum dan menjadi lebih tenang, subhanAllah.
Kenapa bisa
demikian? Ternyata ada keterkaitan yang sangat erat antara meditasi dengan al
Qur’an,seperti dalam sebuah makalah Ustadz Yusri “Meditasi dengan al
Qur’an”.
Selama ini,
praktik meditasi dalam ritual keagamaan seolah-olah hanya ada pada ajaran agama
Budha. Padahal, meditasi juga pernah dilakukan Rasulullaah saw dengan
kepribadian Islam tersendiri, baik ketika beliau sebelum maupun sesudah
diangkat menjadi nabi dan rasul, yang pada saat itu disebut dengan berkhalwat
dan tahannuts. Beliau melakukan meditasi di Gua Hira, ketika menghadapi masalah
yang menimpa diri dan umatnya.
Fakta bahwa
meditasi bisa mengurangi kecemasan, juga telah diselidiki oleh para sarjana
Barat, seperti pada penyelidikan Zen Meditation, dan kemudian pada
penyelidikan Trancendental Meditation. Tetapi, kajian di Barat juga
telah membuktikan 33% hingga 50% mereka yang melakukan meditasi tanpa teknik
yang betul akan mengalami peningkatan dalam tekanan darah, stres, kemurungan
serta mudah marah. Oleh karena itu, jika benar-benar ingin mendalami meditasi,
pastikan kita dilatih oleh mereka yang benar-benar mahir dan berpengalaman
serta mampu memberi penjelasan untuk setiap keadaan. Atau ikuti langkah kedua:
meditasi ala Islam.
Dalam meditasi
Islam (meditasi dengan al Qur’an), perkara yang harus diperhatikan ialah
bagaimana mereka dapat menemukan makna dan tujuan hidup yang memberikan sense
of direction, yang ujungnya mampu mengatasi berbagai masalah,serta
meningkatkan produktivitas dan kesehatan.
Lalu, seperti
apa meditasi dengan al Qur’an itu?
Ustadz Yusri
menjelaskan, Kitab ini tentu saja bukanlahsebuah buku sains ataupun buku
kedokteran. Al Qur’an menyebut dirinya sebagai “penyembuh penyakit”,
yang oleh kaum Muslim diartikan bahwa petunjuk yang dikandungnya akan membawa
manusia pada kesehatan spiritual, psikologis, dan fisik.
Kesembuhan
menggunakan al Qur’an dapat dilakukan dengan membaca, berdekatan dengannya, dan
mendengarkannya. Allah swt menjelaskan:
Dan apabila
dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan
tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS. 7:204)
Salah satu
unsur yang dapat dikatakan dikatakan meditasi dalam al Qur’an adalah
autosugesti, dan hukum-hukum bacaan (tajwid, seperti waqof dan yang
lainnya).
Autosugesti
sebagai olah ketenangan, sedang waqof dan hukum bacaan lainnya adalah
olah pernafasan. Jarang seorang Muslim berpikir kenapa setiap kali selesai
tilawah (membaca al Qur’an), tahu-tahu jiwa dan raga menjadi lebih enak. Ya,
karena tajwid, waqof, memang diatur sesuai fitrah manusia. Maka, Maha
Suci Allah, itulah efek yang sesuai dengan sunnatullaah, bisa didapat tanpa
orang memahaminya, karena bersifat tindakan, melalui bacaan atau tindakan.
Bisakah kita melakukan meditasi seperti ini dengan aman, melalui bacaan atau
tindakan selain al Qur’an?
Masih ingat
Musailamah al Kadzab, sosok yang membuat syair tentang gajah dan katak, lalu
dinyatakannya sebagai penanding al Qur’an? Sampai sekarang jika kita
membacanya, bukan hanya lisan, hati pun akan tertawa. Itulah makna tantangan
dari Allah swt.
Bahkan
mereka mengatakan: “Muhammad Telah membuat-buat Al Quran itu”,
Katakanlah: “(Kalau demikian), Maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang
dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup
(memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”.
(QS. 11:13)
Karena, al
Qur’an efeknya memang global dan sempurna, selain tata bahasa yang tanpa cela
(indah jika kita memahami bahasa Arab), juga efeknya subhanAllaah….
Indahnya
membaca al Qur’an, “surat cinta” dari Sang Maha pencipta, Allah!
Semoga
bermanfaat untuk diri penulis, dan juga ikhwah fillah yang mengambil kebaikan
darinya, Allaahumma aaamiin.
Selasa, 10 Februari 2009
For You, Eternity Zionis
tidak pernah halal untuk dikecup
tidak pernah halal untuk dijilat
meski kau sajikan dengan cawan emas
meski kau sajikan dengan dayang- dayang yang kau anggap dari Surga
TIDAK AKAN!
Darahmu terlalu hina, barang sepercik pun
tidak pernah mengalir asma Allah
tidak pernah mengalir doa pemberkahan kepada Nabi Muhammad
bahkan tak kenal makna kognitif tentang agama
hidup ribuan tahun dengan jutaan hektar danau dan lautan
biarpun dicuci, tetap darahmu kontras dengan kata
kemakmuran iman
tidak akan pernah komperehensif
TIDAK AKAN!
Kukatakan kau darah yang bersinonim dengan Abu Jahal
Kukatakan kau darah yang bersinonim dengan Hitler
kemiskinan mata hati menyertaimu
kau adalah budak setan- setan kafir
kau pecinta legendaris bengis nan kejam
Kukatakan doa penuh harap:
"Moga kelak kau kenyang penderitaan."
Minggu, 25 Januari 2009
Puisi Cinta untuk Kang Ridwan
Jika aku menjadi bunga
kuingin kau menjadi kumbangnya
tapi, ah... ini terlalu kuno
Jika aku menjadi perangko
kuingin kau menjadi amplopnya
tapi, ah... ini kata- kata orangtua kita dulu
Wahai Kang Ridwan,
jujur aku sejujur- jujurnya.
Jika aku menjadi rel kereta api
kuingin kau yang menjadi keretanya
tapi, mengapa sekarang aku takut?
Bukankah rel kereta api bakal dijelajahi bermacam kereta
kereta bakal ditumpangi bermacam jenis manusia
dan rel serta kereta hanya bisa menyapa sesaat
bersinggungan dengan nafsu
lalu berpisah begitu saja.
Aku tidak ingin,
kau juga kan?
Wahai Kang Ridwan,
Bisakah kukembali menulis kata yang dapat menusuk makna cinta
sehingga meletus dan menjalar aromanya?
Wahai Kang Ridwan,
jika kelak kumasuk surga
kuingin kau pun masuk surga
dan kita memohon untuk disandingkan sebagai sepasang kekasih





