Mengapa harus dia? Mungkin aku salah, jika bertanya dan menggerutu meminta penjelasan pada Tuhan karena ini telah ditulis dalam takdir. Dia yang terpilih untuk menjadi daun gugur di senja !0 Agustus 2008. Ya... dia terpilih, maka aku tak bisa berkata banyak lagi. Tapi bukan juga sekedar tak ikhlas. Aku hanya sesak, mengapa Tuhan tak memberi sebulan atau sekedar seperempat jam untuk men-clear-kan hubungan awal kami? Mengapa Tuhan tak memberi waktu untukku menyadari dia tak tak senakal yang kupikirkan.
Sekarang aku hanya bisa menangis, menyesali sebuah abjad kerinduan yang tersusun rapi dalam hatiku. Aku ingin berteriak, tapi dia telah terbenam menjadi gundukan tanah. Panah pesakitan telah menghujamku di bawah keharuman kamboja rumah terakhirnya. Kuakui kusalah tak membaca tanda dalam seminggu sebelum kepergiannya dan kuakui kusalah, kumencintainya, tapi tak punya kekuatan untuk mencium saat terakhirnya.
Sekarang aku hanya bisa menangis, menyesali sebuah abjad kerinduan yang tersusun rapi dalam hatiku. Aku ingin berteriak, tapi dia telah terbenam menjadi gundukan tanah. Panah pesakitan telah menghujamku di bawah keharuman kamboja rumah terakhirnya. Kuakui kusalah tak membaca tanda dalam seminggu sebelum kepergiannya dan kuakui kusalah, kumencintainya, tapi tak punya kekuatan untuk mencium saat terakhirnya.





0 komentar:
Posting Komentar