Aku mungkin bodoh! Itu yang kupikir saat mengingat kenangan lima tahun yang lalu. Ya... mungkin terlalu lugu untuk memahami bahwa kau sebenarnya cinta. Afwan! Bukannya aku tak mencintaimu, tapi semua tak kubaca dari kelakuanmu yang sering salah tingkah. Kuakui kau lelaki yang hadir begitu saja tanpa kuduga. Seperti menyelip berliku. Kau langsung di hadapanku. Tatapan pertama di hari itu membuatku bergidik, ini bukan perasaan biasa, ini apa yang tetua kita sebut sabagai makna sakral, CINTA! Tapi, sekali lagi mungkin aku yang terlalu bodoh dan lugu. Aku mengingkari semuanya.Kita punya kesenangan yang sama. Kau pandai merajut kata dan aku bahagia mengenalmu. Ujung kata, kita jalin hubungan tanpa status ini dalam sebuah tulisan tangan. Kita bertukar surat yang penuh dengan kata puitis. Kita berharap salaing mengoreksi tulisan, padahal sebenarnya kita salang mengagumi lewat itu. Kita berkhayal sang empunya tulisan berada di hadapan kita masing- masing. Aku ingat semuanya kan? Hah... bagaimana mencucinya, apalagi sekarang kau kembali mengetuk meski dalam kisah yang berbeda.
Aku tak ingin membukukan kenangan yang terlalu banyak dalam periode Asmaraloka-ku. Cukup kukenang dalam hati. Kukenang saat aku menangis ketika kau singgung, kukenang ketika kau bertukar sua dengan alinea kata maaf, kukenang suara lembutmu yang selalu membuat bibirku kelu untuk berkata tidak.
Afwan, kuungkap ini. Bukan ingin menumbuhkan sinyal- sinyal yang dulu nyaris dibangun. Aku hanya ingin mengenang sosok yang karena kecerobohanku, kusakiti hatinya, karena kecerobohanku kuhancurkan perasaanku sendiri. Jangan memaksaku untuk segera mencuci semuanya. Kau yang pertama...





0 komentar:
Posting Komentar