
Cinta... cinta mengapa kamu begitu cepat datang tapi sulit banget untuk kubuang dari hati? Kok kamu juga buat aku jadi linglung sampai- sampai rela datang ke sekolah jam 5 pagi dan nyaris tenggelam gara- gara liatin wajah sendunya lagi makan naskun sambil ngangkang? Dan mengapa kamu selalu menyusun rindu di hati bak Marthen Kanginan yang selalu kangen nyiptain buku?
Eits... gila benar, ternyata cinta itu benar- benar nggak mandang siapa. Dia nyerobot aja nyuntikin dia punya virus. Tapi tenang aja, selagi kita megang teguh yang namanya iman, Insyaallah kita nggak bakal goyah diserang gitu- gituan. Mikir deh bagi teman- teman sekalian, cinta itu sebenarnya nggak salah. Cinta itu adalah kodrat ( hakiki ) umat manusia. Tapi kita salah gunakan tuh hakiki yah... jadinya seperti zaman sekarang. Hakiki itu terurai menjadi hakeke- keke. Kita seenaknya lebur tuh cinta jadi kenikmatan sesaat lewat apa yang namanya pacaran. Punya otak nggak sih???? Pacaran itu lebih banyak mudharat daripada manfaatnya. Example story above it! Pengen contoh lain? Dari kehidupan nyata? Dari survei? OK! Coba pikirkan dan cerna baik- baik! Pernahkah sepanjang kehidupan percintaan yang mendekati zina itu membuat kamu, pecinta pacaran nggak pernah nangis? Jangan bohong! Pasti pernah kan? Untuk apa juga? Yang menjadi pertanyaan yang seharusnya dijawab adalah pernahkah kamu, sekali lagi buat pecinta pacaran, menangis karena Allah? Menangis mengingat segenap anugerah terindah yang diberikan- Nya? Lalu pernahkah kamu menangis mengingat perjuangan Rasulullah, sirahnya? Padahal tanpa perjuangannya beserta para sahabat, kita tak akan mengecap keindahan hidup. Kita bakal kekal dalam kejahilian. Rasulullah berjuang di jalan Allah tanpa memikirkan hidup demi umatnya. Pernahkah kamu melihat kekasih yang kau sebut sejati memperjuangkanmu dari kebatilan? Paling juga lari seperti kebiri yang dijepit berton- ton jarum.
So, wahai saudariku yang berbahagia, jangan lebur tuh cinta jadi salah. Buat ia bermakna. Kalau aku bilang sih berdoa aja bila cinta itu datang. Gini nih (hehehe…):
“Ya Allah cintakanlah aku padanya, padanya hamba- Mu yang senantiasa tawaddu dan berserah diri pada- Mu, selalu khusyuk pada- Mu, selalu mengingat- Mu di kala temaram hatinya terang dan kelabu. Ya Allah… takdirkanlah aku pada umat- Mu yang Engkau sayangi agar Engkau dapat mencintaiku pula, takdirkanlah aku pada umat- Mu yang selalu menggemakan qalam- Mu. Ya Allah… jaga cinta hakiki ini hingga nafas terakhirku. Sesungguhnya cinta sempurna hanyalah kepada diri- Mu.





0 komentar:
Posting Komentar