Kuakui!
Aku terpana oleh bentangan sungai dari mata jelitamu, Salju…
“Assalamu’alaikum!” Zen menyapa gadis putih di hadapannya. Tapi, entah mengapa salam tersebut hanya mengambang di sekitar jilbabnya yang melambai- lambai. Diulangi salam untuk kedua kalinya. Tapi tetap sama. Salam itu mengambang tak ada jawaban.
Tiga hari yang lalu Zen bertemu dengan gadis putih berjilbab itu dalam sebuah seminar kesehatan. Matanya bulat, alisnya tebal, hidungnya mancung, dan yang paling berbeda dari gadis yang Zen kenal adalah kulitnya yang bersinar bagai pualam. Gadis itu mungkin mirip dengan orang- orang Turki yang Zen sempat kenal selama ini. Macam Presiden Direktur tempatnya bekerja atau kakak iparnya. Ya… memiliki kemiripan, tapi sedikit berbeda dari segi perawakan wajahnya.
“Assalamu’alaikum!” Zen mengulangi salam untuk ke- enam kalinya sejak tiga hari yang lalu. Seperti sebelum- sebelumnya dari mulut gadis itu tak keluar sepatah kata apapun. Zen meradang. Pemuda seperempat abad itu menggerutu dalam hatinya.
Dia sebenarnya bisu atau tuli?
***
“Ah, gadis aneh!”
Zen membanting pintu kamar kost-annya. Sontak Teddy, teman satu kamarnya, menjerit kaget.
“Ada apa lagi, Zen?” tanya Teddy usai menenangkan diri sejenak.
Zen diam terpekur.
“Ada apa, oi?”
Zen masih diam terpekur.
“Ada apa lagi? Gadis putih yang lo certain kemarin?” Teddy menerka sekenanya. Zen kemudian membalas dengan desahan pelan.
“Kenapa lagi, sih? Dicuekin?”
“Mmm…”
“Dicuekin aja, frustasinya minta ampun. Wajar aja kalau cewek- cewek begitu sama lo!”
Zen berbalik dan menerawang mata Teddy dalam- dalam. “Maksud kamu?”
“Aduh! Nyadar dong, Bro!” Teddy menepuk kencang pundak Zen yang jelas kelelahan. “Lo tuh kalau suka sama cewek, jangan langsung nyatain!”
“Aku nggak nyatain perasaan aku.”
“Tapi indikasinya ke situ. Cara bicara dan tatapan lo itu polos banget. Jelas sekali kalau lo sepertinya pengen nyatain cinta meski yang lo omongin sekedar salam. Apalagi yang lo buru cewek berjilbab kan? Cewek kayak gitu pengalaman. Tau mana yang gombal.”
“Jadi maksud kamu ucapan salam yang aku omongin setiap ketemu dia sama dengan perbuatan gombal?”
Teddy mengangkat bahunya. “Emang cewek itu sudah meracuni pikiranmu sejauh mana, sih? Sampai- sampai lo kayak orang OD gitu? Bro, masih banyak ceewk lain di Jakarta ini. Lo cari yang berjilbab? Masih banyak kok!”
Zen menggeleng. Dia merasa hanya menginginkan gadis putih itu, meski dia tidak tahu apakah yang dirasakannya sekarang hanya sekedar kagum atau benar- benar cinta. Atau hanya rasa penasaran akan salam yang tak pernah dibalas? Penasaran dengan hati dan pikiran gadis putih itu? Penasaran dengan sosoknya yang lekas lenyap dengan cepat?
Ah… mungkinkah dia manusia salju dan aku Afrika yang tidak akan pernah menyatu selain Allah berkata lain dengan Kun- Fayakun- Nya? Entahlah!
***
“Hey, orang Korea imitasi!” Seorang wanita paruh baya meneriaki dan melemparkan berim- rim kertas cetakan ke hadapan Zen.
“Ada apa, Bu?”
“Ada apa, ada apa? Kamu tahu kerjaan kamu monoton? Semuanya tentang salju, gadis putih, mutiara, apalah! Mana unsur kreatifnya?”
Zen diam terpaku di hadapan Presdir- nya. Dia tak tahu harus menjawab apa.
“Kamu pikir majalah kita berunsur warna putih? Tidak! Majalah kita ini menampung cerita anak- anak remaja masa kini. Kamu mau mengubahnya? Kamu pikir kamu ini siapa?”
“Maaf, Bu!”
“Terus kenapa sekarang kayak gini?”
“Hanya itu inspirasi saya saat ini.”
“Oh… jadi kalau kamu hanya punya inspirasi seperti ini kita harus ikutin? Gitu? Ingat! Kamu di sini hanya seorang penulis cerpen dan ilustrator. Kapan saja saya bisa nendang kamu jadi OB atau yang lebih buruk dari itu, karena di luar sana masih banyak penulis dan ilustrator luar biasa dan tidak pembangkang seperti kamu.”
“Sekali lagi saya minta maaf, Bu!”
“Dengar ya! Mulai hari ini gajimu dipotong 2 %. Kamu juga tidak perlu menulis lagi. Kamu hanya akan menjadi ilustrator. Saya harap tidak ada lagi salju, gadis putih ataupun mutiara seperti ini. Mengerti!”
“Iya, Bu!”
“Dan ingat! Tulisan- tulisan ini harus kamu ganti. Besok semuanya harus sudah tersedia di meja saya. Tak ada putih itu lagi!” Wanita separuh baya itu meninggalkan Zen di kursinya. Mata- mata pun sengaja tidak menoleh memperhatikannya. Barulah setelah wanita separuh baya itu masuk ke dalam ruangannya, aliran simpati mengalir dari segolongan teman Zen yang merasa sempat senasib datang melanda.
Zen tersenyum kecut. Ah… manusia salju!
***
“Lo yakin bisa ngerjain dalam satu malam.”
“Coba- coba, Ted! Siapa tahu bisa.”
Zen melanjutkan pekikan- pekikan jarinya ke tuts keyboard komputer. Kacamata minus tiga yang dipakainya sejak tiga tahun terakhir, sejak dia menjadi penulis sekaligus ilustrator, sesekali melorot oleh lepuh- lepuh keringat dari dahinya.
“Lebih baik lo keluar saja dari majalah itu, Zen! Lo ngelamar di majalah lain saja. Dengan pengalaman- pengalaman lo yang seabrek itu, gue yakin lo bakal diterima di majalah yang lo mau, di majalah yang nggak bakal mengekang inspirasi di otak lo.”
Teddy sekali lagi benar. Namun sayangnya, Zen sama sekali tak berpikir ke sana. Presiden Direktur di tempatnya sekarang telah membantunya susah payah, meski di dua tahun terakhir dirinya menjadi orang asing.
“Shitt!”
Zen membanting keyboard komputernya. Dia mengerang dan menjambak rambutnya yang penuh dengan gel. Matanya sontak berkaca dan gelisah. Di otaknya hanya ada satu alur cerita. Gadis putih atau manusia salju itu mengangguk ketika dia datang melamarnya. Zen bahagia. Dia kemudian berjanji sehidup semati dalam ikatan walimah. Indahnya…
“Zen?! Lo nggak apa- apa kan?”
“Iya. Aku… di pikiranku cuma ada satu cerita tentang dia.”
Teddy mengangkat alisnya. “Gadis putih itu?”
Zen mengangguk.
“Sudahlah. Lebih baik kita ke luar dulu cari angin!”
“Nggak usah, Ted.”
“Kalau gitu kita keluar makan aja. Gimana?”
“Nggak deh. Aku mesan aja.”
Teddy mengangguk. “Kalau gitu lo pesen apa?”
“Gadis putih itu…”
***
Pagi- pagi sekali Zen sudah berada di kantor majalah ‘X’. Pagi- pagi pula serim kertas cetakan diletakkannya di atas meja Presiden Direktur dan di pagi ini pulalah Zen ternganga memikirkan gadis pujaan yang sudah mengganggunya dua minggu terakhir. Manusia salju itu menari- nari riang dan tersenyum hangat padanya. “Will you marry me?”
Uhh… terlalu hiperbola! Salamku pun tak dibalasnya, bagaimana mungkin dia menyatakan demikian?
“Assalamu’alaikum!”
Suara lembut Zen dengarkan dalam sedetik. Dia berbalik. Betapa kagetnya ketika dia mendapati gadis putih yang mengganggunya di balik daun pintu ruangan Presiden Direktur dengan wajah lebih anggun dari yang sudah- sudah.
Mau apa dia ke sini?
Sekerjap- kerjap gadis itu hilang lagi dari pandangan kasat mata. Zen ingin beranjak dari kursi yang didudukinya, tapi diurungkan. Dia malu bila nanti Sang Presiden Direktur memaki dan lagi- lagi mengatainya orang Korea imitasi hanya karena alasan yang tidak jelas lancang masuk ke dalam ruangan itu.
Manusia salju, bagaimana cara kudapatkan jawaban salamku? Hari inikah? Ya… aku harap hari ini.
Semenit berselang gadis putih itu ke luar dari ruanagn bersama Presiden Direktur. Kedua wajah wanita berbeda generasi itu merekah- rekah bahagia. Bahkan Sang Presiden Direktur yang jarang tersenyum itu, tertawa agak lebar. Zen dan pekerja di majalah itu sontak terkaget- kaget.
“Tolong perhatiannya!” Presiden Direktur membuka suara. “Mulai besok saya akan digantikan oleh menantu saya sebagai Presiden Direktur di majalah ini. Saya harap kalian bisa beradaptasi dengan dia. Dan saya juga harapkan kerja samanya untuk membangun majalah kita!!!”
Menantu?
Riuh tepuk tangan sontak memenuhi ruangan tersebut. Tapi, itu sama sekali tak berlaku bagi Zen yang diam terpaku di sudut ruangan. Darahnya seperti berhenti mengalir di pembuluh darahnya.
Ah… manusia salju yang ternyata benar- benar salju yang memang salju dan aku Afrika tidak akan pernah bersatu, meskipun mungkin Allah berkehendak lain dengan Kun Fayakun- Nya.
***
Jumat, 11 Maret 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





0 komentar:
Posting Komentar