[Jasmine]
Kamis, 1 Januari 2009
Aku tidak sabar untuk menumpahkan semuanya sekarang. Ok! Pfiuh! Tarik nafas! Biar kurinci satu per satu:
Diary… hari ini aku genap tujuhbelas tahun. Tujuhbelas tahun??! Kamu tahu apa artinya, kan? Aku sudah dewasa! Aku sudah bisa menentukan pilihanku sendiri dengan kata lain, aku bebas. I’m free! I’m free!!!Oh… iya, aku melupakan suatu hal yang membuat hari ini bertambah indah. Mami memberiku New Altis. Ini adalah kado teristimewa yang kudapat di hari pertama kedewasaanku. Aku sangat bersyukur Tuhan menakdirkanku lahir dari rahim Mami. Mami selalu memanjakanku. Baiklah, Aku berjanji akan memberikan yang terbaik untuknya. Apa saja sebisaku. Apa saja… I love you, Mum!!!
***
Jum’at, 2 Januari 2009
Hmm… aku tak bisa memungkiri kata- kata ini: ‘Tujuhbelas tahun itu indah.’ Ya, indah. Malah sangat indah. Di usia ini, aku mendapatkan semuanya. Termasuk cinta. Eits! Bukan cinta yang, yah, bisa dibilang pacar. Bukan cinta seperti itu, tapi cinta dari sahabat dan teman- teman kampusku. Mereka mengadakan surprise party di salah satu cafĂ© terbesar di Bandung untukku. Ternyata ini yang namanya friendship. Indah sekali!
Tapi… kalau boleh jujur, aku menunggu kado dari salah satu orang yang kusayangi. Papi! Ya, Papi! Hingga usiaku menginjak dewasa, Papi tak sekalipun memberiku kado. Ah… sudahlah! Aku tidak boleh secengeng ini! Papi pasti mendoakanku dari sana. Papi kan sudah sangat dekat dengan- Nya…
***
Minggu, 11 Januari 2009
Aku pulang. Bagaimana kabarmu, Diary? Kabarku uring- uringan. Aku ingin menceritakan pengalaman outbound-ku sekaligus menceritakan pertemuanku dengan Ave, tapi aku terlalu capek. Nanti saja, ya?
Night… Diary!
***
Rabu, 14 Januari 2099
Diary, aku tak perlu menceritakan pengalaman outbound-ku. Ada hal yang lebih penting dari itu. Mmm… bisa dibilang hal ini menyangkut kelangsungan masa depanku.
Richa memberiku Formulir Julian Got Talent. Aich… senangnya! Ternyata Julian mencari seorang pemain biola untuk berduet di Konser Perdananya nanti. Audisi dimulai 30 Januari nanti. Aku berharap bisa berduet dengan Si Cakep Julian—oh iya, Ave, cowok yang kusukai di SMA dulu, sekarang jauh dari kata cakep berhubung wajahnya sudah dipenuhi jerawat—
Tapi, wait! Apa aku bisa menang, mengingat aku harus menantang jagoan biola yang tidak sedikit di Indonesia? Kalaupun bisa menang dan menjadi wakil Indonesia, aku masih harus menantang wakil dari negara lain di Asia Tenggara. Nggak mungkin kan, Diary?
***
[Julian]
Friday, January 16th 2009
What should I say? It’s wonderful, Boy! Isn’t it? Ok, thank’s a lot for all to my Lord! I’m happy!
Akhir Agustus nanti adalah Konser Perdanaku di Perancis. Ini kado ketiga yang terindah untukku, setelah sebelumnya aku diberi kepercayaan untuk mengiringi permainan pianis jazz terkenal di Jepang, Choo Yoon-Sung dan ikut mengiringi suara merdu Jang Nara di album ketiganya. Lord, I’m really can’t believe it. Bagaimana caranya berterima kasih atas semua nikmat ini?
Thank’s a lot for all. Thank’s a lot.
***
Sunday, January 25th 2009
Manajer Dan Kwok menelpon beberapa menit yang lalu, menginformasikan bahwa audisi Julian Got Talent mendapat apresiasi luar biasa di Asia Tenggara. Lebih dari 1000 pemain biola professional mengikuti audisi ini. So, I wait you! Semoga yang terbaik akan berduet denganku.
***
Thursday, January 29th 2009
Besok audisi dilaksanakan di beberapa negara di Asia Tenggara. Entah mengapa aku berharap wakil dari Indonesia memenangkan audisi ini. Seperti ada relasi kuat dan seperti ada kontak batin antara aku dan Indonesia. Ah… mungkin aku terbawa emosi karena Bibi Ng memberitahuku bahwa orang yang melahirkanku adalah orang Indonesia. Ya, ibuku—yang pergi jauh sesaat setelah melahirkanku—adalah orang Indonesia. Aku tidak pernah melihat wajahnya bahkan lewat foto, tapi aku yakin ibu adalah wanita yang sangat cantik.
Ah… aku benar- benar berharap wakil Indonesia bisa berduet denganku setelah itu kami akan berbincang tentang Indonesia. Aku tak sabar hari itu tiba.
***
[Jasmine]
Jum’at, 30 Januari 2009
Diary, limabelas menit lagi aku akan naik ke panggung, memainkan biola. Ah… dag-dig-dug rasanya.
***
[Julian]
Wednesday, February 4th 2009
Aku mendapat kabar yang lumayan menyejukkan hatiku yang gersang karena kerinduan mendalam. Kabarnya Indonesia akan mengirimkan wakilnya di Hong Kong nanti. Seorang gadis yang berbakat dan dipastikan bisa menyaingi pemain biola terkenal di dunia. Manajer Dan menyebut nama gadis itu kemarin, tapi aku lupa.
Ah… aku senang mendengar kabar ini. Malah sangat senang. Setidaknya kerinduanku bisa terobati dengan sedikit bercerita tentang Indonesia dengannya nanti.
Ibu… seandainya kau masih berada di sampingku, aku tidak akan seantusias ini?
***
[Jasmine]
Rabu, 25 Januari 2009
Aku mendapat kabar dari guru musikku. Indonesia hanya akan akan mengirim satu perwakilannya. Satu dar sekian ratus kandidat?
Ah… sepertinya aku harus berhenti berharap!
***
Sabtu, 28 Februari 2009
Sialan! Benar- benar sialan! Kalau aku melihatnya lagi, aku akan mencincangnya seperti daging. Lihat saja!
Diary… Si Bento, kamu tahu kan? Ok, dia benar- benar anak yang paling menyebalkan di kampusku. Sekarang dia mencoba mengodaku. Dia mengatakan tepat di depan wajahku, di depan hidungku kalau Julian jelek, sok charming dan sok- sok lainnya. Dia bilang Julian hanya aji mumpung, hanya kebetulan menjadi pianis handal karena ayahnya, Jung Hwa juga seorang pianis handal.
Hallo??? Aku tidak salah dengar kan? Atau mulut Si Bento itu sudah aus? Bisa jadi! Tak mungkin kan seorang Julian Hwa itu jelek, sok charming, dan sebagainya. Jika Julian jelek, tidak mungkin dia menjadi model Men’s Uno. Selanjutnya. Tidak mungkin, kan, Julian mengekor nama besar ayahnya, secara Julian baru memperkenalkan ayahnya setelah tiga tahun terkenal sebagai pianis berbakat-termuda-di-dunia.
Well, yang paling menyebalkan, Si Bento mengatakan dia jauh lebih ganteng dari Julian. Hahaha… berkaca di poster Asthon Kutcher, bro?
***
[Julian]
Tuesday, March 17th 2009
Sebentar lagi perwakilan dari beberapa negara di Asia Tenggara diumumkan, berarti sebentar lagi malam puncak akan dilaksanakan dan itu juga akan sama artinya aku akan bertemu perwakilan dari Indonesia.
Pfiuh… sepertinya aku lebih tegang menunggu hari pertemuanku dengan perwakilan Indonesia dibanding tegang karena memikirkan konsep di Konser Perdanaku nanti. Aneh sekali kan, Boy?
***
[Jasmine]
Rabu, 18 Maret 2009
AAAAAAAA… AAAAAAAAA… AAAAAAAAA…. Aku tak tahu harus bilang apa. Guru musikku memberikan sebuah amplop padaku tadi sore. Isinya pengumuman audisi kemarin. Kamu tahu apa hasilnya???? Aku lulus, Diary! AKU LULUS!!! Aku satu- satunya wakil Indonesia yang ikut ke Malam Puncak dan akan menantang wakil dari Asia Tenggara lainnnya.
God, what should I say?!
***
[Julian]
Tuesday, March 31st 2009
Ayah membuang semua peralatan dan kamus- kamusku. Ayah marah besar ketika tahu aku mempelajari Bahasa Indonesia dari Manajer Dan Kwok. Ayah tak ingin aku jatuh ke lubang yang sama. Lubang apa? Bukankah ayah seharusnya senang aku mencintai tempat kelahiran ibu? Atau… ibu telah mengkhianati ayah dan sebenarnya ibu belum meninggal? Lalu ke mana ibu?
***
[Jasmine]
Kamis, 9 April 2009
Aku baru tahu di rumah ini terdapat gudang bawah tanah. Mami tidak pernah bercerita tentang ruangan ini, dengan kata lain Mami menyembunyikannya dariku. Saat aku bertanya, Mami malah memarahiku. Mami marah besar, apalagi ketika tahu aku berani menyentuh piano yang begitu elegan—yang sebenarnya tak layak disimpan di dalam gudang— dan mencoba memainkannya.
Ada apa sebenarnya? Mengapa Mami harus semarah ini dan tiba- tiba melarangku mengikuti audisi ini?
***
Sabtu, 16 Mei 2009
Huh… nyaris sebulan aku mengacuhkanmu, Diary. Tapi aku tidak bermaksud seperti itu. akhir- akhir ini aku harus mengikuti latihan full time. Tak ada waktu lagi untuk menumpahkan seluruh uneg- uneg di hatiku. Juga tentang kemarahan Mami yang belum reda. Maaf ya! Aku berjanji tidak akan begini lagi. Smile ^_^
***
Rabu, 3 Juni 2009
Aku sudah membuat keputusan. Aku ingin menjadi pemain biola yang terkenal seperti yang kuimpikan sejak kecil. Lima belas menit lagi, kita terbang ke Hong Kong, Diary. Kita perlihatkan pada Mami, keputusan ini tidak salah!
***
[Julian]
Friday, May 29th 2009
Sebentar lagi aku akan terbang ke Hong Kong, terbang seminggu lebih awal untuk menemui perwakilan dari Asia Tenggara sekaligus berlatih di sana. Aku tak bisa lagi latihan di tempat ini. Aku tak bisa fokus. Ayah masih murka melihat keantusiasanku dengan Indonesia. Ini merusak konsentrasiku.
***
Friday, Juny 5th 2009
Sudah seminggu aku di sini dan melewati hari- hari tanpa hal yang berarti selain latihan keras yang menguras tenaga. Aku juga belum melihat wakil dari Indonesia itu. Ke mana dia?
***
[Jasmine]
Selasa, 9 Juni 2009
Lihat apa yang kudapat hari ini! Si Julian itu benar- benar orang yang sok charming dan sebagainya, persis seperti yang dikatakan Bento padaku. Kau tahu, Diary? Dia membentakku di depan orang banyak hanya karena tidak sengaja menumpahkan kopi ke atas pianonya. Aku minta maaf tapi dia tidak terima. Ya… sudah! Dasar arogan!!!
***
[Julian]
Tuesday, Juny 9th 2009
Cih! Aku benar- benar bodoh sudah seantusias ini menunggu wakil dari Indonesia itu. Dia ternyata orang yang sangat ceroboh. Lihat! Dia menumpahkan kopi ke atas piano kesayanganku. Bagaimana jika piano itu rusak? Apa bisa dia mengganti piano keluaran satu- satunya di dunia itu?
***
[Jasmine]
Kamis, 11 Juni 2009
Seandainya aku belum mengetahui sifat asli seorang Julian, aku pasti akan senang dan sangat berterima kasih pada Angela—penata rias Julian—yang mengatakan aku sangat mirip dengan Julian, mengatakan kami bagai anak kembar dan di Indonesia itu berarti kami jodoh. Tapi sayang, aku tidak sudi disandingkan dengan lelaki super-cool-yang-tidak-menyenangkan-seperti-itu.
***
[Julian]
Friday, Juny 12nd 2009
Kemarin Angela mengatakan bahwa mataku, bibirku—bahkan parahnya—wajahku, sangat mirip dengan Jasmine. Ok, aku sekarang tahu nama wakil dari Indonesia itu. Ah… itu adalah fitnah besar yang pernah kudengar. Tidak mungkin aku mirip dengannya yang berwajah eighties. Jauh beda.
Mmm… tapi, sepertinya mata Jasmine memang mirip denganku. Menurutmu, Boy?
***
Monday, Juny 15th 2009
Hubunganku dengan Jasmine sepertinya tidak akan membaik. Gadis itu sangat menjengkelkan. Melihat batang hidungnya saja, membuatku nyaris tewas. Mengapa Tuhan harus mengizinkan orang seprti itu hidup di dunia ini?
***
[Jasmine]
Sabtu, 20 Juni 2009
Aku ingin pulang, Diary. Aku sudah tidak tahan. Julian bisa membunuhku pelan- pelan. Aku benar- benar sangat membencinya. Huh… mengapa Tuhan harus menciptakan orang seperti dia?
***
[Julian]
Monday, Juny 22nd 2009
Hari ini Jasmine tidak ikut latihan. Dia kecapekan dan tidak bisa bangkit dari tempat tidurnya. Angela yang memberitahuku. Akhir- akhir ini Jasmine juga sering menangis. Dia merindukan Indonesia atau aku sudah terlalu keras kepadanya? Ah… Boy, mengapa aku harus merasa bersalah seperti ini?
***
Monday, Juny 22nd 2009
Aku baru saja mengunjungi Jasmine di kamarnya. Tak ada seorang pun yang melihatku karena kuyakin mereka sudah terlelap setelah latihan panjang dan melelahkan beberapa jam yang lalu. Aku tidak tahu apa yang menarikku ke kamar Si Ceroboh ini?
Aku hampir lupa sesuatu, Boy. Waktu kukunjungi tadi Jasmine juga tertidur pulas dan kau harus tahu… wajahnya sangat damai dibanding ketika dia terjaga dan melakukan hal- hal bodoh. Mmm… aku akui, Tuhan tidak salah menciptakan makhluk indah sepertinya.
Hey, aku sedang tidak jatuh cinta kan?
***
[Jasmine]
Selasa, 23 Juni 2009
Aku bangun dengan tubuh yang diselimuti dengan hangat. Aku tidak ingat aku menyelimuti diriku sendiri atau tidak, yang jelas aku tidak pernah mengingat ada selimut seperti ini di kamarku. Dan… obat flu ini? Siapa pula yang menyimpannya di sampingku? Tidak mungkin kan dia datang sendiri ke sini?
***
Senin, 29 Juni 2009
Ayah Julian datang ke tempat latihan kami. Aku berusaha bersikap baik pada ayahnya saat bertemu. Tapi, Jung Hwa, tidak menanggapiku malah membentakku, melarangku mendekati Julian. aku nyaris menangis di depannya. Untung Julian segera membawaku pergi dan menenangkanku, menutupi wajahku yang banjir airmata. Ah… ayah dan anak ini, tidak memiliki gen arogan kan?
***
Rabu, 1 Juli 2009
Sebentar lagi aku akan naik ke atas panggung. Hatiku masih dag… dig… dug, tak ubahnya di JCC dulu. Hanya saja beban kali ini lebih berat. Selain harus menantang pemain biola professional, aku juga harus memenuhi permintaan Julian. Diary… sebelum ke Gran Hotel Yen San ini, Julian menemuiku, menggenggam jariku dan mengatakan: ‘Kamu harus menang. Untuk aku.’
***
[Julian]
Wednesday, July 1st 2009
Malam Puncak baru saja berakhir. Tahu, Boy? Jasmine keluar sebagai pemenang. Dia berhak berduet denganku di konser perdanaku nanti. Tapi… sesaat setelah namanya disebut, dia jatuh tak sadarkan diri. Ada apa dengannya?
***
Tuesday, July 7th 2009
Sudah seminggu Jasmine tak sadar. Dokter mengatakan Jasmine terkena kanker otak. Aku tidak tahu harus berbuat apa selain menangis mengharapkan kesembuhannya. Ya… hanya itu yang kulakukan.
***
Sunday, July 12nd 2009
Ibu Jasmine datang ke Hong Kong. Manajer Dan Kwok yang menghubunginya. Wanita paruh baya itu menamparku sesaat setelah dia masuk bersama ayah. Awalnya aku tidak mengerti. Tapi setelah wanita itu memelukku penuh kerinduan dan mendapati ayah yang menatapku nanar dari sudut ruangan, aku mengerti. Ini pertanda buruk.
***
Sunday, July 19th 2009
Apa yang kutakutkan terjadi. Ayah memperlihatkanku sebuah foto yang nyaris membuatku mati muda. Itu foto ayah bersama seorang wanita yang tak asing bagiku. Mereka menggendong sepasang anak kembar. Kau tahu siapa mereka, Boy? Itu aku dan Jasmine. Kami… kami saudara kembar.
God, betapa bodohnya aku telah mencintainya.
***
[Jasmine]
Selasa, 21 Juli 2009
Julian datang dan dia yang pertama kali kulihat saat aku membuka mata. Dia datang bersama ayahnya. Ah… tahu tidak, Diary? Ayahnya juga sudah berubah. Mungkin dua makhluk ini memiliki gen berkepribadian ganda? Hahaha…
Eh? Julian memberikanku sebuah gaun putih dengan halterneck yang sangat indah. Dia memintaku memakainya di Konser Perdananya nanti. Aku senang. Sangat senang. Tapi, itu tidak berangsur lama setelah Julian membisikkan sesuatu di telingaku: ‘Aku mencintaimu tapi kita tidak mungkin bisa bersama.’ Saat kutanya, apakah itu karena itu karena orang tua kami, dia berkata iya.
Ah… aku tidak menyangka akan bernasib sama dengan Juliet yang tidak akan bersama dengan Romeo. Mengapa nasibku jadi begini?
***
[Julian]
Sunday, July 26th 2009
Aku tidak bisa memandang Jasmine dengan sackdress halterneck yang kuberikan padanya. Aku tidak bisa berduet dengannya lagi. Tidak bisa. Sama sekali tidak bisa. Bukan ayah dan ibu yang memisahkan kami, tapi Tuhan. Ya… Tuhan memanggilnya, kembali ke pangkuan- Nya. What should I do? Nothing.
Baik- baik di sana twinkle star. Aku mencintaimu. Semoga Tuhan memberikan kita kehidupan kedua, di mana aku bukan lagi kakakmu. Saranghae, Jasmine…
***
Jumat, 11 Maret 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





0 komentar:
Posting Komentar