Minggu, 26 April 2009

I Say...

0 komentar
Aku mencintaimu,
tapi alam tak memberiku waktu untukku mengungkapkannya
tapi alam tak memberi waktu untukku melelehkan kebekuan kata
di balik bibirku
Aku merindukanmu,
tapi alam tak memberi waktu untukku meneriakkannya
tapi alam tak memberi waktu untukku menjelaskan bahwa:
perasaan ini sudah sangat lama
sangat lama!
mungkin jauh sebelum Adan dan Hawa diciptakan!

Dan Kukatakan...

0 komentar
Aku menyayangimu, sangat
tapi mungkin kau tak tahu
bahkan Batara Kamjaya dan Dewi Ratih pun tak tahu
mengapa?
karena semua kubenam jauh dalam lautan
karena semua kutanam jauh dalam lapisan tanah
karena semua telah kuterbangkan jauh bersama burung- burng manyar

Aku mencintaimu, terlalu
tapi kau tak sadar
mungkin hanya Gusti Allah yang sadar
mangapa?
karena aku mengerti, aku ini bukan Sinyok Mangkunegara
karena aku totok
aku sejati, bukan bangsawan peranakan
aku abdimu
tak mungkin terpandang
tak mungkin sejajar denganmu yang sempurna
kau adalah DEN RARA’

Minggu, 05 April 2009

0 komentar
Aku mungkin bodoh! Itu yang kupikir saat mengingat kenangan lima tahun yang lalu. Ya... mungkin terlalu lugu untuk memahami bahwa kau sebenarnya cinta. Afwan! Bukannya aku tak mencintaimu, tapi semua tak kubaca dari kelakuanmu yang sering salah tingkah. Kuakui kau lelaki yang hadir begitu saja tanpa kuduga. Seperti menyelip berliku. Kau langsung di hadapanku. Tatapan pertama di hari itu membuatku bergidik, ini bukan perasaan biasa, ini apa yang tetua kita sebut sabagai makna sakral, CINTA! Tapi, sekali lagi mungkin aku yang terlalu bodoh dan lugu. Aku mengingkari semuanya.

Kita punya kesenangan yang sama. Kau pandai merajut kata dan aku bahagia mengenalmu. Ujung kata, kita jalin hubungan tanpa status ini dalam sebuah tulisan tangan. Kita bertukar surat yang penuh dengan kata puitis. Kita berharap salaing mengoreksi tulisan, padahal sebenarnya kita salang mengagumi lewat itu. Kita berkhayal sang empunya tulisan berada di hadapan kita masing- masing. Aku ingat semuanya kan? Hah... bagaimana mencucinya, apalagi sekarang kau kembali mengetuk meski dalam kisah yang berbeda.

Aku tak ingin membukukan kenangan yang terlalu banyak dalam periode Asmaraloka-ku. Cukup kukenang dalam hati. Kukenang saat aku menangis ketika kau singgung, kukenang ketika kau bertukar sua dengan alinea kata maaf, kukenang suara lembutmu yang selalu membuat bibirku kelu untuk berkata tidak.

Afwan, kuungkap ini. Bukan ingin menumbuhkan sinyal- sinyal yang dulu nyaris dibangun. Aku hanya ingin mengenang sosok yang karena kecerobohanku, kusakiti hatinya, karena kecerobohanku kuhancurkan perasaanku sendiri. Jangan memaksaku untuk segera mencuci semuanya. Kau yang pertama...

Selasa, 24 Maret 2009

0 komentar

aku tak pernah meminta lebih pada Tuhan
karena aku tahu apa yang diberikannya sudah lebih dari cukup,

lebih dari usaha yang telah kulakukan
tapi... seandainya Tuhan memberiku kesempatan
maka, satu yang kupinta

aku ingin membahagiakan seseorang,
aku ingin membahagiakan seseorang yang sosoknya lebih pahlawan tak dikenal,
lebih dari sekedar pahlawan revolusi,

lebih dari sekedar pahlawan tanpa tanda jasa
setiap detik- detik nafas terakhir kudedikasikan untuknya
untuk... MAMA!

Selasa, 17 Maret 2009

Bila Cinta Terlanjur Datang

0 komentar

Cinta... cinta mengapa kamu begitu cepat datang tapi sulit banget untuk kubuang dari hati? Kok kamu juga buat aku jadi linglung sampai- sampai rela datang ke sekolah jam 5 pagi dan nyaris tenggelam gara- gara liatin wajah sendunya lagi makan naskun sambil ngangkang? Dan mengapa kamu selalu menyusun rindu di hati bak Marthen Kanginan yang selalu kangen nyiptain buku?

Eits... gila benar, ternyata cinta itu benar- benar nggak mandang siapa. Dia nyerobot aja nyuntikin dia punya virus. Tapi tenang aja, selagi kita megang teguh yang namanya iman, Insyaallah kita nggak bakal goyah diserang gitu- gituan. Mikir deh bagi teman- teman sekalian, cinta itu sebenarnya nggak salah. Cinta itu adalah kodrat ( hakiki ) umat manusia. Tapi kita salah gunakan tuh hakiki yah... jadinya seperti zaman sekarang. Hakiki itu terurai menjadi hakeke- keke. Kita seenaknya lebur tuh cinta jadi kenikmatan sesaat lewat apa yang namanya pacaran. Punya otak nggak sih???? Pacaran itu lebih banyak mudharat daripada manfaatnya. Example story above it! Pengen contoh lain? Dari kehidupan nyata? Dari survei? OK! Coba pikirkan dan cerna baik- baik! Pernahkah sepanjang kehidupan percintaan yang mendekati zina itu membuat kamu, pecinta pacaran nggak pernah nangis? Jangan bohong! Pasti pernah kan? Untuk apa juga? Yang menjadi pertanyaan yang seharusnya dijawab adalah pernahkah kamu, sekali lagi buat pecinta pacaran, menangis karena Allah? Menangis mengingat segenap anugerah terindah yang diberikan- Nya? Lalu pernahkah kamu menangis mengingat perjuangan Rasulullah, sirahnya? Padahal tanpa perjuangannya beserta para sahabat, kita tak akan mengecap keindahan hidup. Kita bakal kekal dalam kejahilian. Rasulullah berjuang di jalan Allah tanpa memikirkan hidup demi umatnya. Pernahkah kamu melihat kekasih yang kau sebut sejati memperjuangkanmu dari kebatilan? Paling juga lari seperti kebiri yang dijepit berton- ton jarum.


So, wahai saudariku yang berbahagia, jangan lebur tuh cinta jadi salah. Buat ia bermakna. Kalau aku bilang sih berdoa aja bila cinta itu datang. Gini nih (hehehe…):

“Ya Allah cintakanlah aku padanya, padanya hamba- Mu yang senantiasa tawaddu dan berserah diri pada- Mu, selalu khusyuk pada- Mu, selalu mengingat- Mu di kala temaram hatinya terang dan kelabu. Ya Allah… takdirkanlah aku pada umat- Mu yang Engkau sayangi agar Engkau dapat mencintaiku pula, takdirkanlah aku pada umat- Mu yang selalu menggemakan qalam- Mu. Ya Allah… jaga cinta hakiki ini hingga nafas terakhirku. Sesungguhnya cinta sempurna hanyalah kepada diri- Mu.

Aloina

0 komentar

Saat kutiba kau terbenah dalam ilusi
terpapah dalam mega- mega cinta
dan kau adalah perawan berkerudung jingga,
gapailah jemariku kemudian rebahkan selendangmu
dalam sangkar nadiku.

Masa silam,
dulu kau dan aku...
meninggalkan pembaringan kenangan
yang tak akan bengkit
meski angin datang menampar
meski badai datang mengamuk
kerana kenangan itu bagai benang tanpa ujung uraian.

Aloina...
bayang- bayangmu kembali merekah
di balik cadar keindahan
tanpa kesombongan, tanpa kemunafikan

Aloina...
sudikah kau asapi semestaku?

From Here

0 komentar
Semua berawal dari sini
Semua berakhir di sini
benciku padamu, wahai penjerat aristokrat berawal dari sini
cintaku padamu, wahai Sinyok Mangkunegara juga berakhir di sini
DI SINI!
Dalam gumpalan darah yang tetua kita sebut sebagai hati
Dalam gumpalan darah yang sutradra sebut sebaga pembohong
karena saat itu benci membohongi cinta,
cinta membohongi kasih,
dan kasih membohongi dendam
Semua menutup- ditutupi
bagai aturan yang hilang tercampur dalam adukan telur
tanpa arah, tanpa jalan
berkecamuk serak dalam gempita
 

asmaraloka Copyright © 2008 Black Brown Art Template by Ipiet's Blogger Template