Kuakui!
Aku terpana oleh bentangan sungai dari mata jelitamu, Salju…
“Assalamu’alaikum!” Zen menyapa gadis putih di hadapannya. Tapi, entah mengapa salam tersebut hanya mengambang di sekitar jilbabnya yang melambai- lambai. Diulangi salam untuk kedua kalinya. Tapi tetap sama. Salam itu mengambang tak ada jawaban.
Tiga hari yang lalu Zen bertemu dengan gadis putih berjilbab itu dalam sebuah seminar kesehatan. Matanya bulat, alisnya tebal, hidungnya mancung, dan yang paling berbeda dari gadis yang Zen kenal adalah kulitnya yang bersinar bagai pualam. Gadis itu mungkin mirip dengan orang- orang Turki yang Zen sempat kenal selama ini. Macam Presiden Direktur tempatnya bekerja atau kakak iparnya. Ya… memiliki kemiripan, tapi sedikit berbeda dari segi perawakan wajahnya.
“Assalamu’alaikum!” Zen mengulangi salam untuk ke- enam kalinya sejak tiga hari yang lalu. Seperti sebelum- sebelumnya dari mulut gadis itu tak keluar sepatah kata apapun. Zen meradang. Pemuda seperempat abad itu menggerutu dalam hatinya.
Dia sebenarnya bisu atau tuli?
***
“Ah, gadis aneh!”
Zen membanting pintu kamar kost-annya. Sontak Teddy, teman satu kamarnya, menjerit kaget.
“Ada apa lagi, Zen?” tanya Teddy usai menenangkan diri sejenak.
Zen diam terpekur.
“Ada apa, oi?”
Zen masih diam terpekur.
“Ada apa lagi? Gadis putih yang lo certain kemarin?” Teddy menerka sekenanya. Zen kemudian membalas dengan desahan pelan.
“Kenapa lagi, sih? Dicuekin?”
“Mmm…”
“Dicuekin aja, frustasinya minta ampun. Wajar aja kalau cewek- cewek begitu sama lo!”
Zen berbalik dan menerawang mata Teddy dalam- dalam. “Maksud kamu?”
“Aduh! Nyadar dong, Bro!” Teddy menepuk kencang pundak Zen yang jelas kelelahan. “Lo tuh kalau suka sama cewek, jangan langsung nyatain!”
“Aku nggak nyatain perasaan aku.”
“Tapi indikasinya ke situ. Cara bicara dan tatapan lo itu polos banget. Jelas sekali kalau lo sepertinya pengen nyatain cinta meski yang lo omongin sekedar salam. Apalagi yang lo buru cewek berjilbab kan? Cewek kayak gitu pengalaman. Tau mana yang gombal.”
“Jadi maksud kamu ucapan salam yang aku omongin setiap ketemu dia sama dengan perbuatan gombal?”
Teddy mengangkat bahunya. “Emang cewek itu sudah meracuni pikiranmu sejauh mana, sih? Sampai- sampai lo kayak orang OD gitu? Bro, masih banyak ceewk lain di Jakarta ini. Lo cari yang berjilbab? Masih banyak kok!”
Zen menggeleng. Dia merasa hanya menginginkan gadis putih itu, meski dia tidak tahu apakah yang dirasakannya sekarang hanya sekedar kagum atau benar- benar cinta. Atau hanya rasa penasaran akan salam yang tak pernah dibalas? Penasaran dengan hati dan pikiran gadis putih itu? Penasaran dengan sosoknya yang lekas lenyap dengan cepat?
Ah… mungkinkah dia manusia salju dan aku Afrika yang tidak akan pernah menyatu selain Allah berkata lain dengan Kun- Fayakun- Nya? Entahlah!
***
“Hey, orang Korea imitasi!” Seorang wanita paruh baya meneriaki dan melemparkan berim- rim kertas cetakan ke hadapan Zen.
“Ada apa, Bu?”
“Ada apa, ada apa? Kamu tahu kerjaan kamu monoton? Semuanya tentang salju, gadis putih, mutiara, apalah! Mana unsur kreatifnya?”
Zen diam terpaku di hadapan Presdir- nya. Dia tak tahu harus menjawab apa.
“Kamu pikir majalah kita berunsur warna putih? Tidak! Majalah kita ini menampung cerita anak- anak remaja masa kini. Kamu mau mengubahnya? Kamu pikir kamu ini siapa?”
“Maaf, Bu!”
“Terus kenapa sekarang kayak gini?”
“Hanya itu inspirasi saya saat ini.”
“Oh… jadi kalau kamu hanya punya inspirasi seperti ini kita harus ikutin? Gitu? Ingat! Kamu di sini hanya seorang penulis cerpen dan ilustrator. Kapan saja saya bisa nendang kamu jadi OB atau yang lebih buruk dari itu, karena di luar sana masih banyak penulis dan ilustrator luar biasa dan tidak pembangkang seperti kamu.”
“Sekali lagi saya minta maaf, Bu!”
“Dengar ya! Mulai hari ini gajimu dipotong 2 %. Kamu juga tidak perlu menulis lagi. Kamu hanya akan menjadi ilustrator. Saya harap tidak ada lagi salju, gadis putih ataupun mutiara seperti ini. Mengerti!”
“Iya, Bu!”
“Dan ingat! Tulisan- tulisan ini harus kamu ganti. Besok semuanya harus sudah tersedia di meja saya. Tak ada putih itu lagi!” Wanita separuh baya itu meninggalkan Zen di kursinya. Mata- mata pun sengaja tidak menoleh memperhatikannya. Barulah setelah wanita separuh baya itu masuk ke dalam ruangannya, aliran simpati mengalir dari segolongan teman Zen yang merasa sempat senasib datang melanda.
Zen tersenyum kecut. Ah… manusia salju!
***
“Lo yakin bisa ngerjain dalam satu malam.”
“Coba- coba, Ted! Siapa tahu bisa.”
Zen melanjutkan pekikan- pekikan jarinya ke tuts keyboard komputer. Kacamata minus tiga yang dipakainya sejak tiga tahun terakhir, sejak dia menjadi penulis sekaligus ilustrator, sesekali melorot oleh lepuh- lepuh keringat dari dahinya.
“Lebih baik lo keluar saja dari majalah itu, Zen! Lo ngelamar di majalah lain saja. Dengan pengalaman- pengalaman lo yang seabrek itu, gue yakin lo bakal diterima di majalah yang lo mau, di majalah yang nggak bakal mengekang inspirasi di otak lo.”
Teddy sekali lagi benar. Namun sayangnya, Zen sama sekali tak berpikir ke sana. Presiden Direktur di tempatnya sekarang telah membantunya susah payah, meski di dua tahun terakhir dirinya menjadi orang asing.
“Shitt!”
Zen membanting keyboard komputernya. Dia mengerang dan menjambak rambutnya yang penuh dengan gel. Matanya sontak berkaca dan gelisah. Di otaknya hanya ada satu alur cerita. Gadis putih atau manusia salju itu mengangguk ketika dia datang melamarnya. Zen bahagia. Dia kemudian berjanji sehidup semati dalam ikatan walimah. Indahnya…
“Zen?! Lo nggak apa- apa kan?”
“Iya. Aku… di pikiranku cuma ada satu cerita tentang dia.”
Teddy mengangkat alisnya. “Gadis putih itu?”
Zen mengangguk.
“Sudahlah. Lebih baik kita ke luar dulu cari angin!”
“Nggak usah, Ted.”
“Kalau gitu kita keluar makan aja. Gimana?”
“Nggak deh. Aku mesan aja.”
Teddy mengangguk. “Kalau gitu lo pesen apa?”
“Gadis putih itu…”
***
Pagi- pagi sekali Zen sudah berada di kantor majalah ‘X’. Pagi- pagi pula serim kertas cetakan diletakkannya di atas meja Presiden Direktur dan di pagi ini pulalah Zen ternganga memikirkan gadis pujaan yang sudah mengganggunya dua minggu terakhir. Manusia salju itu menari- nari riang dan tersenyum hangat padanya. “Will you marry me?”
Uhh… terlalu hiperbola! Salamku pun tak dibalasnya, bagaimana mungkin dia menyatakan demikian?
“Assalamu’alaikum!”
Suara lembut Zen dengarkan dalam sedetik. Dia berbalik. Betapa kagetnya ketika dia mendapati gadis putih yang mengganggunya di balik daun pintu ruangan Presiden Direktur dengan wajah lebih anggun dari yang sudah- sudah.
Mau apa dia ke sini?
Sekerjap- kerjap gadis itu hilang lagi dari pandangan kasat mata. Zen ingin beranjak dari kursi yang didudukinya, tapi diurungkan. Dia malu bila nanti Sang Presiden Direktur memaki dan lagi- lagi mengatainya orang Korea imitasi hanya karena alasan yang tidak jelas lancang masuk ke dalam ruangan itu.
Manusia salju, bagaimana cara kudapatkan jawaban salamku? Hari inikah? Ya… aku harap hari ini.
Semenit berselang gadis putih itu ke luar dari ruanagn bersama Presiden Direktur. Kedua wajah wanita berbeda generasi itu merekah- rekah bahagia. Bahkan Sang Presiden Direktur yang jarang tersenyum itu, tertawa agak lebar. Zen dan pekerja di majalah itu sontak terkaget- kaget.
“Tolong perhatiannya!” Presiden Direktur membuka suara. “Mulai besok saya akan digantikan oleh menantu saya sebagai Presiden Direktur di majalah ini. Saya harap kalian bisa beradaptasi dengan dia. Dan saya juga harapkan kerja samanya untuk membangun majalah kita!!!”
Menantu?
Riuh tepuk tangan sontak memenuhi ruangan tersebut. Tapi, itu sama sekali tak berlaku bagi Zen yang diam terpaku di sudut ruangan. Darahnya seperti berhenti mengalir di pembuluh darahnya.
Ah… manusia salju yang ternyata benar- benar salju yang memang salju dan aku Afrika tidak akan pernah bersatu, meskipun mungkin Allah berkehendak lain dengan Kun Fayakun- Nya.
***
Jumat, 11 Maret 2011
ANOTHER ROMEO AND JULIET STORY
[Jasmine]
Kamis, 1 Januari 2009
Aku tidak sabar untuk menumpahkan semuanya sekarang. Ok! Pfiuh! Tarik nafas! Biar kurinci satu per satu:
Diary… hari ini aku genap tujuhbelas tahun. Tujuhbelas tahun??! Kamu tahu apa artinya, kan? Aku sudah dewasa! Aku sudah bisa menentukan pilihanku sendiri dengan kata lain, aku bebas. I’m free! I’m free!!!Oh… iya, aku melupakan suatu hal yang membuat hari ini bertambah indah. Mami memberiku New Altis. Ini adalah kado teristimewa yang kudapat di hari pertama kedewasaanku. Aku sangat bersyukur Tuhan menakdirkanku lahir dari rahim Mami. Mami selalu memanjakanku. Baiklah, Aku berjanji akan memberikan yang terbaik untuknya. Apa saja sebisaku. Apa saja… I love you, Mum!!!
***
Jum’at, 2 Januari 2009
Hmm… aku tak bisa memungkiri kata- kata ini: ‘Tujuhbelas tahun itu indah.’ Ya, indah. Malah sangat indah. Di usia ini, aku mendapatkan semuanya. Termasuk cinta. Eits! Bukan cinta yang, yah, bisa dibilang pacar. Bukan cinta seperti itu, tapi cinta dari sahabat dan teman- teman kampusku. Mereka mengadakan surprise party di salah satu cafĂ© terbesar di Bandung untukku. Ternyata ini yang namanya friendship. Indah sekali!
Tapi… kalau boleh jujur, aku menunggu kado dari salah satu orang yang kusayangi. Papi! Ya, Papi! Hingga usiaku menginjak dewasa, Papi tak sekalipun memberiku kado. Ah… sudahlah! Aku tidak boleh secengeng ini! Papi pasti mendoakanku dari sana. Papi kan sudah sangat dekat dengan- Nya…
***
Minggu, 11 Januari 2009
Aku pulang. Bagaimana kabarmu, Diary? Kabarku uring- uringan. Aku ingin menceritakan pengalaman outbound-ku sekaligus menceritakan pertemuanku dengan Ave, tapi aku terlalu capek. Nanti saja, ya?
Night… Diary!
***
Rabu, 14 Januari 2099
Diary, aku tak perlu menceritakan pengalaman outbound-ku. Ada hal yang lebih penting dari itu. Mmm… bisa dibilang hal ini menyangkut kelangsungan masa depanku.
Richa memberiku Formulir Julian Got Talent. Aich… senangnya! Ternyata Julian mencari seorang pemain biola untuk berduet di Konser Perdananya nanti. Audisi dimulai 30 Januari nanti. Aku berharap bisa berduet dengan Si Cakep Julian—oh iya, Ave, cowok yang kusukai di SMA dulu, sekarang jauh dari kata cakep berhubung wajahnya sudah dipenuhi jerawat—
Tapi, wait! Apa aku bisa menang, mengingat aku harus menantang jagoan biola yang tidak sedikit di Indonesia? Kalaupun bisa menang dan menjadi wakil Indonesia, aku masih harus menantang wakil dari negara lain di Asia Tenggara. Nggak mungkin kan, Diary?
***
[Julian]
Friday, January 16th 2009
What should I say? It’s wonderful, Boy! Isn’t it? Ok, thank’s a lot for all to my Lord! I’m happy!
Akhir Agustus nanti adalah Konser Perdanaku di Perancis. Ini kado ketiga yang terindah untukku, setelah sebelumnya aku diberi kepercayaan untuk mengiringi permainan pianis jazz terkenal di Jepang, Choo Yoon-Sung dan ikut mengiringi suara merdu Jang Nara di album ketiganya. Lord, I’m really can’t believe it. Bagaimana caranya berterima kasih atas semua nikmat ini?
Thank’s a lot for all. Thank’s a lot.
***
Sunday, January 25th 2009
Manajer Dan Kwok menelpon beberapa menit yang lalu, menginformasikan bahwa audisi Julian Got Talent mendapat apresiasi luar biasa di Asia Tenggara. Lebih dari 1000 pemain biola professional mengikuti audisi ini. So, I wait you! Semoga yang terbaik akan berduet denganku.
***
Thursday, January 29th 2009
Besok audisi dilaksanakan di beberapa negara di Asia Tenggara. Entah mengapa aku berharap wakil dari Indonesia memenangkan audisi ini. Seperti ada relasi kuat dan seperti ada kontak batin antara aku dan Indonesia. Ah… mungkin aku terbawa emosi karena Bibi Ng memberitahuku bahwa orang yang melahirkanku adalah orang Indonesia. Ya, ibuku—yang pergi jauh sesaat setelah melahirkanku—adalah orang Indonesia. Aku tidak pernah melihat wajahnya bahkan lewat foto, tapi aku yakin ibu adalah wanita yang sangat cantik.
Ah… aku benar- benar berharap wakil Indonesia bisa berduet denganku setelah itu kami akan berbincang tentang Indonesia. Aku tak sabar hari itu tiba.
***
[Jasmine]
Jum’at, 30 Januari 2009
Diary, limabelas menit lagi aku akan naik ke panggung, memainkan biola. Ah… dag-dig-dug rasanya.
***
[Julian]
Wednesday, February 4th 2009
Aku mendapat kabar yang lumayan menyejukkan hatiku yang gersang karena kerinduan mendalam. Kabarnya Indonesia akan mengirimkan wakilnya di Hong Kong nanti. Seorang gadis yang berbakat dan dipastikan bisa menyaingi pemain biola terkenal di dunia. Manajer Dan menyebut nama gadis itu kemarin, tapi aku lupa.
Ah… aku senang mendengar kabar ini. Malah sangat senang. Setidaknya kerinduanku bisa terobati dengan sedikit bercerita tentang Indonesia dengannya nanti.
Ibu… seandainya kau masih berada di sampingku, aku tidak akan seantusias ini?
***
[Jasmine]
Rabu, 25 Januari 2009
Aku mendapat kabar dari guru musikku. Indonesia hanya akan akan mengirim satu perwakilannya. Satu dar sekian ratus kandidat?
Ah… sepertinya aku harus berhenti berharap!
***
Sabtu, 28 Februari 2009
Sialan! Benar- benar sialan! Kalau aku melihatnya lagi, aku akan mencincangnya seperti daging. Lihat saja!
Diary… Si Bento, kamu tahu kan? Ok, dia benar- benar anak yang paling menyebalkan di kampusku. Sekarang dia mencoba mengodaku. Dia mengatakan tepat di depan wajahku, di depan hidungku kalau Julian jelek, sok charming dan sok- sok lainnya. Dia bilang Julian hanya aji mumpung, hanya kebetulan menjadi pianis handal karena ayahnya, Jung Hwa juga seorang pianis handal.
Hallo??? Aku tidak salah dengar kan? Atau mulut Si Bento itu sudah aus? Bisa jadi! Tak mungkin kan seorang Julian Hwa itu jelek, sok charming, dan sebagainya. Jika Julian jelek, tidak mungkin dia menjadi model Men’s Uno. Selanjutnya. Tidak mungkin, kan, Julian mengekor nama besar ayahnya, secara Julian baru memperkenalkan ayahnya setelah tiga tahun terkenal sebagai pianis berbakat-termuda-di-dunia.
Well, yang paling menyebalkan, Si Bento mengatakan dia jauh lebih ganteng dari Julian. Hahaha… berkaca di poster Asthon Kutcher, bro?
***
[Julian]
Tuesday, March 17th 2009
Sebentar lagi perwakilan dari beberapa negara di Asia Tenggara diumumkan, berarti sebentar lagi malam puncak akan dilaksanakan dan itu juga akan sama artinya aku akan bertemu perwakilan dari Indonesia.
Pfiuh… sepertinya aku lebih tegang menunggu hari pertemuanku dengan perwakilan Indonesia dibanding tegang karena memikirkan konsep di Konser Perdanaku nanti. Aneh sekali kan, Boy?
***
[Jasmine]
Rabu, 18 Maret 2009
AAAAAAAA… AAAAAAAAA… AAAAAAAAA…. Aku tak tahu harus bilang apa. Guru musikku memberikan sebuah amplop padaku tadi sore. Isinya pengumuman audisi kemarin. Kamu tahu apa hasilnya???? Aku lulus, Diary! AKU LULUS!!! Aku satu- satunya wakil Indonesia yang ikut ke Malam Puncak dan akan menantang wakil dari Asia Tenggara lainnnya.
God, what should I say?!
***
[Julian]
Tuesday, March 31st 2009
Ayah membuang semua peralatan dan kamus- kamusku. Ayah marah besar ketika tahu aku mempelajari Bahasa Indonesia dari Manajer Dan Kwok. Ayah tak ingin aku jatuh ke lubang yang sama. Lubang apa? Bukankah ayah seharusnya senang aku mencintai tempat kelahiran ibu? Atau… ibu telah mengkhianati ayah dan sebenarnya ibu belum meninggal? Lalu ke mana ibu?
***
[Jasmine]
Kamis, 9 April 2009
Aku baru tahu di rumah ini terdapat gudang bawah tanah. Mami tidak pernah bercerita tentang ruangan ini, dengan kata lain Mami menyembunyikannya dariku. Saat aku bertanya, Mami malah memarahiku. Mami marah besar, apalagi ketika tahu aku berani menyentuh piano yang begitu elegan—yang sebenarnya tak layak disimpan di dalam gudang— dan mencoba memainkannya.
Ada apa sebenarnya? Mengapa Mami harus semarah ini dan tiba- tiba melarangku mengikuti audisi ini?
***
Sabtu, 16 Mei 2009
Huh… nyaris sebulan aku mengacuhkanmu, Diary. Tapi aku tidak bermaksud seperti itu. akhir- akhir ini aku harus mengikuti latihan full time. Tak ada waktu lagi untuk menumpahkan seluruh uneg- uneg di hatiku. Juga tentang kemarahan Mami yang belum reda. Maaf ya! Aku berjanji tidak akan begini lagi. Smile ^_^
***
Rabu, 3 Juni 2009
Aku sudah membuat keputusan. Aku ingin menjadi pemain biola yang terkenal seperti yang kuimpikan sejak kecil. Lima belas menit lagi, kita terbang ke Hong Kong, Diary. Kita perlihatkan pada Mami, keputusan ini tidak salah!
***
[Julian]
Friday, May 29th 2009
Sebentar lagi aku akan terbang ke Hong Kong, terbang seminggu lebih awal untuk menemui perwakilan dari Asia Tenggara sekaligus berlatih di sana. Aku tak bisa lagi latihan di tempat ini. Aku tak bisa fokus. Ayah masih murka melihat keantusiasanku dengan Indonesia. Ini merusak konsentrasiku.
***
Friday, Juny 5th 2009
Sudah seminggu aku di sini dan melewati hari- hari tanpa hal yang berarti selain latihan keras yang menguras tenaga. Aku juga belum melihat wakil dari Indonesia itu. Ke mana dia?
***
[Jasmine]
Selasa, 9 Juni 2009
Lihat apa yang kudapat hari ini! Si Julian itu benar- benar orang yang sok charming dan sebagainya, persis seperti yang dikatakan Bento padaku. Kau tahu, Diary? Dia membentakku di depan orang banyak hanya karena tidak sengaja menumpahkan kopi ke atas pianonya. Aku minta maaf tapi dia tidak terima. Ya… sudah! Dasar arogan!!!
***
[Julian]
Tuesday, Juny 9th 2009
Cih! Aku benar- benar bodoh sudah seantusias ini menunggu wakil dari Indonesia itu. Dia ternyata orang yang sangat ceroboh. Lihat! Dia menumpahkan kopi ke atas piano kesayanganku. Bagaimana jika piano itu rusak? Apa bisa dia mengganti piano keluaran satu- satunya di dunia itu?
***
[Jasmine]
Kamis, 11 Juni 2009
Seandainya aku belum mengetahui sifat asli seorang Julian, aku pasti akan senang dan sangat berterima kasih pada Angela—penata rias Julian—yang mengatakan aku sangat mirip dengan Julian, mengatakan kami bagai anak kembar dan di Indonesia itu berarti kami jodoh. Tapi sayang, aku tidak sudi disandingkan dengan lelaki super-cool-yang-tidak-menyenangkan-seperti-itu.
***
[Julian]
Friday, Juny 12nd 2009
Kemarin Angela mengatakan bahwa mataku, bibirku—bahkan parahnya—wajahku, sangat mirip dengan Jasmine. Ok, aku sekarang tahu nama wakil dari Indonesia itu. Ah… itu adalah fitnah besar yang pernah kudengar. Tidak mungkin aku mirip dengannya yang berwajah eighties. Jauh beda.
Mmm… tapi, sepertinya mata Jasmine memang mirip denganku. Menurutmu, Boy?
***
Monday, Juny 15th 2009
Hubunganku dengan Jasmine sepertinya tidak akan membaik. Gadis itu sangat menjengkelkan. Melihat batang hidungnya saja, membuatku nyaris tewas. Mengapa Tuhan harus mengizinkan orang seprti itu hidup di dunia ini?
***
[Jasmine]
Sabtu, 20 Juni 2009
Aku ingin pulang, Diary. Aku sudah tidak tahan. Julian bisa membunuhku pelan- pelan. Aku benar- benar sangat membencinya. Huh… mengapa Tuhan harus menciptakan orang seperti dia?
***
[Julian]
Monday, Juny 22nd 2009
Hari ini Jasmine tidak ikut latihan. Dia kecapekan dan tidak bisa bangkit dari tempat tidurnya. Angela yang memberitahuku. Akhir- akhir ini Jasmine juga sering menangis. Dia merindukan Indonesia atau aku sudah terlalu keras kepadanya? Ah… Boy, mengapa aku harus merasa bersalah seperti ini?
***
Monday, Juny 22nd 2009
Aku baru saja mengunjungi Jasmine di kamarnya. Tak ada seorang pun yang melihatku karena kuyakin mereka sudah terlelap setelah latihan panjang dan melelahkan beberapa jam yang lalu. Aku tidak tahu apa yang menarikku ke kamar Si Ceroboh ini?
Aku hampir lupa sesuatu, Boy. Waktu kukunjungi tadi Jasmine juga tertidur pulas dan kau harus tahu… wajahnya sangat damai dibanding ketika dia terjaga dan melakukan hal- hal bodoh. Mmm… aku akui, Tuhan tidak salah menciptakan makhluk indah sepertinya.
Hey, aku sedang tidak jatuh cinta kan?
***
[Jasmine]
Selasa, 23 Juni 2009
Aku bangun dengan tubuh yang diselimuti dengan hangat. Aku tidak ingat aku menyelimuti diriku sendiri atau tidak, yang jelas aku tidak pernah mengingat ada selimut seperti ini di kamarku. Dan… obat flu ini? Siapa pula yang menyimpannya di sampingku? Tidak mungkin kan dia datang sendiri ke sini?
***
Senin, 29 Juni 2009
Ayah Julian datang ke tempat latihan kami. Aku berusaha bersikap baik pada ayahnya saat bertemu. Tapi, Jung Hwa, tidak menanggapiku malah membentakku, melarangku mendekati Julian. aku nyaris menangis di depannya. Untung Julian segera membawaku pergi dan menenangkanku, menutupi wajahku yang banjir airmata. Ah… ayah dan anak ini, tidak memiliki gen arogan kan?
***
Rabu, 1 Juli 2009
Sebentar lagi aku akan naik ke atas panggung. Hatiku masih dag… dig… dug, tak ubahnya di JCC dulu. Hanya saja beban kali ini lebih berat. Selain harus menantang pemain biola professional, aku juga harus memenuhi permintaan Julian. Diary… sebelum ke Gran Hotel Yen San ini, Julian menemuiku, menggenggam jariku dan mengatakan: ‘Kamu harus menang. Untuk aku.’
***
[Julian]
Wednesday, July 1st 2009
Malam Puncak baru saja berakhir. Tahu, Boy? Jasmine keluar sebagai pemenang. Dia berhak berduet denganku di konser perdanaku nanti. Tapi… sesaat setelah namanya disebut, dia jatuh tak sadarkan diri. Ada apa dengannya?
***
Tuesday, July 7th 2009
Sudah seminggu Jasmine tak sadar. Dokter mengatakan Jasmine terkena kanker otak. Aku tidak tahu harus berbuat apa selain menangis mengharapkan kesembuhannya. Ya… hanya itu yang kulakukan.
***
Sunday, July 12nd 2009
Ibu Jasmine datang ke Hong Kong. Manajer Dan Kwok yang menghubunginya. Wanita paruh baya itu menamparku sesaat setelah dia masuk bersama ayah. Awalnya aku tidak mengerti. Tapi setelah wanita itu memelukku penuh kerinduan dan mendapati ayah yang menatapku nanar dari sudut ruangan, aku mengerti. Ini pertanda buruk.
***
Sunday, July 19th 2009
Apa yang kutakutkan terjadi. Ayah memperlihatkanku sebuah foto yang nyaris membuatku mati muda. Itu foto ayah bersama seorang wanita yang tak asing bagiku. Mereka menggendong sepasang anak kembar. Kau tahu siapa mereka, Boy? Itu aku dan Jasmine. Kami… kami saudara kembar.
God, betapa bodohnya aku telah mencintainya.
***
[Jasmine]
Selasa, 21 Juli 2009
Julian datang dan dia yang pertama kali kulihat saat aku membuka mata. Dia datang bersama ayahnya. Ah… tahu tidak, Diary? Ayahnya juga sudah berubah. Mungkin dua makhluk ini memiliki gen berkepribadian ganda? Hahaha…
Eh? Julian memberikanku sebuah gaun putih dengan halterneck yang sangat indah. Dia memintaku memakainya di Konser Perdananya nanti. Aku senang. Sangat senang. Tapi, itu tidak berangsur lama setelah Julian membisikkan sesuatu di telingaku: ‘Aku mencintaimu tapi kita tidak mungkin bisa bersama.’ Saat kutanya, apakah itu karena itu karena orang tua kami, dia berkata iya.
Ah… aku tidak menyangka akan bernasib sama dengan Juliet yang tidak akan bersama dengan Romeo. Mengapa nasibku jadi begini?
***
[Julian]
Sunday, July 26th 2009
Aku tidak bisa memandang Jasmine dengan sackdress halterneck yang kuberikan padanya. Aku tidak bisa berduet dengannya lagi. Tidak bisa. Sama sekali tidak bisa. Bukan ayah dan ibu yang memisahkan kami, tapi Tuhan. Ya… Tuhan memanggilnya, kembali ke pangkuan- Nya. What should I do? Nothing.
Baik- baik di sana twinkle star. Aku mencintaimu. Semoga Tuhan memberikan kita kehidupan kedua, di mana aku bukan lagi kakakmu. Saranghae, Jasmine…
***
Kamis, 1 Januari 2009
Aku tidak sabar untuk menumpahkan semuanya sekarang. Ok! Pfiuh! Tarik nafas! Biar kurinci satu per satu:
Diary… hari ini aku genap tujuhbelas tahun. Tujuhbelas tahun??! Kamu tahu apa artinya, kan? Aku sudah dewasa! Aku sudah bisa menentukan pilihanku sendiri dengan kata lain, aku bebas. I’m free! I’m free!!!Oh… iya, aku melupakan suatu hal yang membuat hari ini bertambah indah. Mami memberiku New Altis. Ini adalah kado teristimewa yang kudapat di hari pertama kedewasaanku. Aku sangat bersyukur Tuhan menakdirkanku lahir dari rahim Mami. Mami selalu memanjakanku. Baiklah, Aku berjanji akan memberikan yang terbaik untuknya. Apa saja sebisaku. Apa saja… I love you, Mum!!!
***
Jum’at, 2 Januari 2009
Hmm… aku tak bisa memungkiri kata- kata ini: ‘Tujuhbelas tahun itu indah.’ Ya, indah. Malah sangat indah. Di usia ini, aku mendapatkan semuanya. Termasuk cinta. Eits! Bukan cinta yang, yah, bisa dibilang pacar. Bukan cinta seperti itu, tapi cinta dari sahabat dan teman- teman kampusku. Mereka mengadakan surprise party di salah satu cafĂ© terbesar di Bandung untukku. Ternyata ini yang namanya friendship. Indah sekali!
Tapi… kalau boleh jujur, aku menunggu kado dari salah satu orang yang kusayangi. Papi! Ya, Papi! Hingga usiaku menginjak dewasa, Papi tak sekalipun memberiku kado. Ah… sudahlah! Aku tidak boleh secengeng ini! Papi pasti mendoakanku dari sana. Papi kan sudah sangat dekat dengan- Nya…
***
Minggu, 11 Januari 2009
Aku pulang. Bagaimana kabarmu, Diary? Kabarku uring- uringan. Aku ingin menceritakan pengalaman outbound-ku sekaligus menceritakan pertemuanku dengan Ave, tapi aku terlalu capek. Nanti saja, ya?
Night… Diary!
***
Rabu, 14 Januari 2099
Diary, aku tak perlu menceritakan pengalaman outbound-ku. Ada hal yang lebih penting dari itu. Mmm… bisa dibilang hal ini menyangkut kelangsungan masa depanku.
Richa memberiku Formulir Julian Got Talent. Aich… senangnya! Ternyata Julian mencari seorang pemain biola untuk berduet di Konser Perdananya nanti. Audisi dimulai 30 Januari nanti. Aku berharap bisa berduet dengan Si Cakep Julian—oh iya, Ave, cowok yang kusukai di SMA dulu, sekarang jauh dari kata cakep berhubung wajahnya sudah dipenuhi jerawat—
Tapi, wait! Apa aku bisa menang, mengingat aku harus menantang jagoan biola yang tidak sedikit di Indonesia? Kalaupun bisa menang dan menjadi wakil Indonesia, aku masih harus menantang wakil dari negara lain di Asia Tenggara. Nggak mungkin kan, Diary?
***
[Julian]
Friday, January 16th 2009
What should I say? It’s wonderful, Boy! Isn’t it? Ok, thank’s a lot for all to my Lord! I’m happy!
Akhir Agustus nanti adalah Konser Perdanaku di Perancis. Ini kado ketiga yang terindah untukku, setelah sebelumnya aku diberi kepercayaan untuk mengiringi permainan pianis jazz terkenal di Jepang, Choo Yoon-Sung dan ikut mengiringi suara merdu Jang Nara di album ketiganya. Lord, I’m really can’t believe it. Bagaimana caranya berterima kasih atas semua nikmat ini?
Thank’s a lot for all. Thank’s a lot.
***
Sunday, January 25th 2009
Manajer Dan Kwok menelpon beberapa menit yang lalu, menginformasikan bahwa audisi Julian Got Talent mendapat apresiasi luar biasa di Asia Tenggara. Lebih dari 1000 pemain biola professional mengikuti audisi ini. So, I wait you! Semoga yang terbaik akan berduet denganku.
***
Thursday, January 29th 2009
Besok audisi dilaksanakan di beberapa negara di Asia Tenggara. Entah mengapa aku berharap wakil dari Indonesia memenangkan audisi ini. Seperti ada relasi kuat dan seperti ada kontak batin antara aku dan Indonesia. Ah… mungkin aku terbawa emosi karena Bibi Ng memberitahuku bahwa orang yang melahirkanku adalah orang Indonesia. Ya, ibuku—yang pergi jauh sesaat setelah melahirkanku—adalah orang Indonesia. Aku tidak pernah melihat wajahnya bahkan lewat foto, tapi aku yakin ibu adalah wanita yang sangat cantik.
Ah… aku benar- benar berharap wakil Indonesia bisa berduet denganku setelah itu kami akan berbincang tentang Indonesia. Aku tak sabar hari itu tiba.
***
[Jasmine]
Jum’at, 30 Januari 2009
Diary, limabelas menit lagi aku akan naik ke panggung, memainkan biola. Ah… dag-dig-dug rasanya.
***
[Julian]
Wednesday, February 4th 2009
Aku mendapat kabar yang lumayan menyejukkan hatiku yang gersang karena kerinduan mendalam. Kabarnya Indonesia akan mengirimkan wakilnya di Hong Kong nanti. Seorang gadis yang berbakat dan dipastikan bisa menyaingi pemain biola terkenal di dunia. Manajer Dan menyebut nama gadis itu kemarin, tapi aku lupa.
Ah… aku senang mendengar kabar ini. Malah sangat senang. Setidaknya kerinduanku bisa terobati dengan sedikit bercerita tentang Indonesia dengannya nanti.
Ibu… seandainya kau masih berada di sampingku, aku tidak akan seantusias ini?
***
[Jasmine]
Rabu, 25 Januari 2009
Aku mendapat kabar dari guru musikku. Indonesia hanya akan akan mengirim satu perwakilannya. Satu dar sekian ratus kandidat?
Ah… sepertinya aku harus berhenti berharap!
***
Sabtu, 28 Februari 2009
Sialan! Benar- benar sialan! Kalau aku melihatnya lagi, aku akan mencincangnya seperti daging. Lihat saja!
Diary… Si Bento, kamu tahu kan? Ok, dia benar- benar anak yang paling menyebalkan di kampusku. Sekarang dia mencoba mengodaku. Dia mengatakan tepat di depan wajahku, di depan hidungku kalau Julian jelek, sok charming dan sok- sok lainnya. Dia bilang Julian hanya aji mumpung, hanya kebetulan menjadi pianis handal karena ayahnya, Jung Hwa juga seorang pianis handal.
Hallo??? Aku tidak salah dengar kan? Atau mulut Si Bento itu sudah aus? Bisa jadi! Tak mungkin kan seorang Julian Hwa itu jelek, sok charming, dan sebagainya. Jika Julian jelek, tidak mungkin dia menjadi model Men’s Uno. Selanjutnya. Tidak mungkin, kan, Julian mengekor nama besar ayahnya, secara Julian baru memperkenalkan ayahnya setelah tiga tahun terkenal sebagai pianis berbakat-termuda-di-dunia.
Well, yang paling menyebalkan, Si Bento mengatakan dia jauh lebih ganteng dari Julian. Hahaha… berkaca di poster Asthon Kutcher, bro?
***
[Julian]
Tuesday, March 17th 2009
Sebentar lagi perwakilan dari beberapa negara di Asia Tenggara diumumkan, berarti sebentar lagi malam puncak akan dilaksanakan dan itu juga akan sama artinya aku akan bertemu perwakilan dari Indonesia.
Pfiuh… sepertinya aku lebih tegang menunggu hari pertemuanku dengan perwakilan Indonesia dibanding tegang karena memikirkan konsep di Konser Perdanaku nanti. Aneh sekali kan, Boy?
***
[Jasmine]
Rabu, 18 Maret 2009
AAAAAAAA… AAAAAAAAA… AAAAAAAAA…. Aku tak tahu harus bilang apa. Guru musikku memberikan sebuah amplop padaku tadi sore. Isinya pengumuman audisi kemarin. Kamu tahu apa hasilnya???? Aku lulus, Diary! AKU LULUS!!! Aku satu- satunya wakil Indonesia yang ikut ke Malam Puncak dan akan menantang wakil dari Asia Tenggara lainnnya.
God, what should I say?!
***
[Julian]
Tuesday, March 31st 2009
Ayah membuang semua peralatan dan kamus- kamusku. Ayah marah besar ketika tahu aku mempelajari Bahasa Indonesia dari Manajer Dan Kwok. Ayah tak ingin aku jatuh ke lubang yang sama. Lubang apa? Bukankah ayah seharusnya senang aku mencintai tempat kelahiran ibu? Atau… ibu telah mengkhianati ayah dan sebenarnya ibu belum meninggal? Lalu ke mana ibu?
***
[Jasmine]
Kamis, 9 April 2009
Aku baru tahu di rumah ini terdapat gudang bawah tanah. Mami tidak pernah bercerita tentang ruangan ini, dengan kata lain Mami menyembunyikannya dariku. Saat aku bertanya, Mami malah memarahiku. Mami marah besar, apalagi ketika tahu aku berani menyentuh piano yang begitu elegan—yang sebenarnya tak layak disimpan di dalam gudang— dan mencoba memainkannya.
Ada apa sebenarnya? Mengapa Mami harus semarah ini dan tiba- tiba melarangku mengikuti audisi ini?
***
Sabtu, 16 Mei 2009
Huh… nyaris sebulan aku mengacuhkanmu, Diary. Tapi aku tidak bermaksud seperti itu. akhir- akhir ini aku harus mengikuti latihan full time. Tak ada waktu lagi untuk menumpahkan seluruh uneg- uneg di hatiku. Juga tentang kemarahan Mami yang belum reda. Maaf ya! Aku berjanji tidak akan begini lagi. Smile ^_^
***
Rabu, 3 Juni 2009
Aku sudah membuat keputusan. Aku ingin menjadi pemain biola yang terkenal seperti yang kuimpikan sejak kecil. Lima belas menit lagi, kita terbang ke Hong Kong, Diary. Kita perlihatkan pada Mami, keputusan ini tidak salah!
***
[Julian]
Friday, May 29th 2009
Sebentar lagi aku akan terbang ke Hong Kong, terbang seminggu lebih awal untuk menemui perwakilan dari Asia Tenggara sekaligus berlatih di sana. Aku tak bisa lagi latihan di tempat ini. Aku tak bisa fokus. Ayah masih murka melihat keantusiasanku dengan Indonesia. Ini merusak konsentrasiku.
***
Friday, Juny 5th 2009
Sudah seminggu aku di sini dan melewati hari- hari tanpa hal yang berarti selain latihan keras yang menguras tenaga. Aku juga belum melihat wakil dari Indonesia itu. Ke mana dia?
***
[Jasmine]
Selasa, 9 Juni 2009
Lihat apa yang kudapat hari ini! Si Julian itu benar- benar orang yang sok charming dan sebagainya, persis seperti yang dikatakan Bento padaku. Kau tahu, Diary? Dia membentakku di depan orang banyak hanya karena tidak sengaja menumpahkan kopi ke atas pianonya. Aku minta maaf tapi dia tidak terima. Ya… sudah! Dasar arogan!!!
***
[Julian]
Tuesday, Juny 9th 2009
Cih! Aku benar- benar bodoh sudah seantusias ini menunggu wakil dari Indonesia itu. Dia ternyata orang yang sangat ceroboh. Lihat! Dia menumpahkan kopi ke atas piano kesayanganku. Bagaimana jika piano itu rusak? Apa bisa dia mengganti piano keluaran satu- satunya di dunia itu?
***
[Jasmine]
Kamis, 11 Juni 2009
Seandainya aku belum mengetahui sifat asli seorang Julian, aku pasti akan senang dan sangat berterima kasih pada Angela—penata rias Julian—yang mengatakan aku sangat mirip dengan Julian, mengatakan kami bagai anak kembar dan di Indonesia itu berarti kami jodoh. Tapi sayang, aku tidak sudi disandingkan dengan lelaki super-cool-yang-tidak-menyenangkan-seperti-itu.
***
[Julian]
Friday, Juny 12nd 2009
Kemarin Angela mengatakan bahwa mataku, bibirku—bahkan parahnya—wajahku, sangat mirip dengan Jasmine. Ok, aku sekarang tahu nama wakil dari Indonesia itu. Ah… itu adalah fitnah besar yang pernah kudengar. Tidak mungkin aku mirip dengannya yang berwajah eighties. Jauh beda.
Mmm… tapi, sepertinya mata Jasmine memang mirip denganku. Menurutmu, Boy?
***
Monday, Juny 15th 2009
Hubunganku dengan Jasmine sepertinya tidak akan membaik. Gadis itu sangat menjengkelkan. Melihat batang hidungnya saja, membuatku nyaris tewas. Mengapa Tuhan harus mengizinkan orang seprti itu hidup di dunia ini?
***
[Jasmine]
Sabtu, 20 Juni 2009
Aku ingin pulang, Diary. Aku sudah tidak tahan. Julian bisa membunuhku pelan- pelan. Aku benar- benar sangat membencinya. Huh… mengapa Tuhan harus menciptakan orang seperti dia?
***
[Julian]
Monday, Juny 22nd 2009
Hari ini Jasmine tidak ikut latihan. Dia kecapekan dan tidak bisa bangkit dari tempat tidurnya. Angela yang memberitahuku. Akhir- akhir ini Jasmine juga sering menangis. Dia merindukan Indonesia atau aku sudah terlalu keras kepadanya? Ah… Boy, mengapa aku harus merasa bersalah seperti ini?
***
Monday, Juny 22nd 2009
Aku baru saja mengunjungi Jasmine di kamarnya. Tak ada seorang pun yang melihatku karena kuyakin mereka sudah terlelap setelah latihan panjang dan melelahkan beberapa jam yang lalu. Aku tidak tahu apa yang menarikku ke kamar Si Ceroboh ini?
Aku hampir lupa sesuatu, Boy. Waktu kukunjungi tadi Jasmine juga tertidur pulas dan kau harus tahu… wajahnya sangat damai dibanding ketika dia terjaga dan melakukan hal- hal bodoh. Mmm… aku akui, Tuhan tidak salah menciptakan makhluk indah sepertinya.
Hey, aku sedang tidak jatuh cinta kan?
***
[Jasmine]
Selasa, 23 Juni 2009
Aku bangun dengan tubuh yang diselimuti dengan hangat. Aku tidak ingat aku menyelimuti diriku sendiri atau tidak, yang jelas aku tidak pernah mengingat ada selimut seperti ini di kamarku. Dan… obat flu ini? Siapa pula yang menyimpannya di sampingku? Tidak mungkin kan dia datang sendiri ke sini?
***
Senin, 29 Juni 2009
Ayah Julian datang ke tempat latihan kami. Aku berusaha bersikap baik pada ayahnya saat bertemu. Tapi, Jung Hwa, tidak menanggapiku malah membentakku, melarangku mendekati Julian. aku nyaris menangis di depannya. Untung Julian segera membawaku pergi dan menenangkanku, menutupi wajahku yang banjir airmata. Ah… ayah dan anak ini, tidak memiliki gen arogan kan?
***
Rabu, 1 Juli 2009
Sebentar lagi aku akan naik ke atas panggung. Hatiku masih dag… dig… dug, tak ubahnya di JCC dulu. Hanya saja beban kali ini lebih berat. Selain harus menantang pemain biola professional, aku juga harus memenuhi permintaan Julian. Diary… sebelum ke Gran Hotel Yen San ini, Julian menemuiku, menggenggam jariku dan mengatakan: ‘Kamu harus menang. Untuk aku.’
***
[Julian]
Wednesday, July 1st 2009
Malam Puncak baru saja berakhir. Tahu, Boy? Jasmine keluar sebagai pemenang. Dia berhak berduet denganku di konser perdanaku nanti. Tapi… sesaat setelah namanya disebut, dia jatuh tak sadarkan diri. Ada apa dengannya?
***
Tuesday, July 7th 2009
Sudah seminggu Jasmine tak sadar. Dokter mengatakan Jasmine terkena kanker otak. Aku tidak tahu harus berbuat apa selain menangis mengharapkan kesembuhannya. Ya… hanya itu yang kulakukan.
***
Sunday, July 12nd 2009
Ibu Jasmine datang ke Hong Kong. Manajer Dan Kwok yang menghubunginya. Wanita paruh baya itu menamparku sesaat setelah dia masuk bersama ayah. Awalnya aku tidak mengerti. Tapi setelah wanita itu memelukku penuh kerinduan dan mendapati ayah yang menatapku nanar dari sudut ruangan, aku mengerti. Ini pertanda buruk.
***
Sunday, July 19th 2009
Apa yang kutakutkan terjadi. Ayah memperlihatkanku sebuah foto yang nyaris membuatku mati muda. Itu foto ayah bersama seorang wanita yang tak asing bagiku. Mereka menggendong sepasang anak kembar. Kau tahu siapa mereka, Boy? Itu aku dan Jasmine. Kami… kami saudara kembar.
God, betapa bodohnya aku telah mencintainya.
***
[Jasmine]
Selasa, 21 Juli 2009
Julian datang dan dia yang pertama kali kulihat saat aku membuka mata. Dia datang bersama ayahnya. Ah… tahu tidak, Diary? Ayahnya juga sudah berubah. Mungkin dua makhluk ini memiliki gen berkepribadian ganda? Hahaha…
Eh? Julian memberikanku sebuah gaun putih dengan halterneck yang sangat indah. Dia memintaku memakainya di Konser Perdananya nanti. Aku senang. Sangat senang. Tapi, itu tidak berangsur lama setelah Julian membisikkan sesuatu di telingaku: ‘Aku mencintaimu tapi kita tidak mungkin bisa bersama.’ Saat kutanya, apakah itu karena itu karena orang tua kami, dia berkata iya.
Ah… aku tidak menyangka akan bernasib sama dengan Juliet yang tidak akan bersama dengan Romeo. Mengapa nasibku jadi begini?
***
[Julian]
Sunday, July 26th 2009
Aku tidak bisa memandang Jasmine dengan sackdress halterneck yang kuberikan padanya. Aku tidak bisa berduet dengannya lagi. Tidak bisa. Sama sekali tidak bisa. Bukan ayah dan ibu yang memisahkan kami, tapi Tuhan. Ya… Tuhan memanggilnya, kembali ke pangkuan- Nya. What should I do? Nothing.
Baik- baik di sana twinkle star. Aku mencintaimu. Semoga Tuhan memberikan kita kehidupan kedua, di mana aku bukan lagi kakakmu. Saranghae, Jasmine…
***
Selasa, 08 September 2009
Aku Tak Tahu Di Mana
Aku di sini berdiri kemudian menatap pada sebuah takdir yang tak ingin kunyatakan sebagai keganjilan. Mengapa keganjilan? Apa karena kita terpisah, mungkin bertemu mungkin tidak? Ini selalu kukatakan sebagai skenario, kita tak bisa menyesalinya. Apa yang diberikan Tuhan benar sudah yang terbaik. Ukh, kau mengerti ini jauh di atasku. Ilmuku tak seluas ilmu yang selalu kau tumbuhkan dan kembangkan.
Ukh, sebenarnya kutulis ini untuk mengirim sinyal kepadamu. Aku terhimpit dalam lubang skenario. Tuhan mengirimkan orang- orang yang, ah... bagaimana mengungkapkannya. Mereka baik. Terlalu baik untuk ukuran manusia sepertiku. Hanya saja, mereka tak sepertimu dan juga tak seperti paham yang kita punya.
Ukh, bagaimana? Di dunia tak ada orang yang sama. Seperti kau pula. Tak ada. jadi, di mana kau harus kutemui untuk melengkapi sinyal ini?
Minggu, 26 April 2009
My Beloved Brother, For You...
Mengapa harus dia? Mungkin aku salah, jika bertanya dan menggerutu meminta penjelasan pada Tuhan karena ini telah ditulis dalam takdir. Dia yang terpilih untuk menjadi daun gugur di senja !0 Agustus 2008. Ya... dia terpilih, maka aku tak bisa berkata banyak lagi. Tapi bukan juga sekedar tak ikhlas. Aku hanya sesak, mengapa Tuhan tak memberi sebulan atau sekedar seperempat jam untuk men-clear-kan hubungan awal kami? Mengapa Tuhan tak memberi waktu untukku menyadari dia tak tak senakal yang kupikirkan.
Sekarang aku hanya bisa menangis, menyesali sebuah abjad kerinduan yang tersusun rapi dalam hatiku. Aku ingin berteriak, tapi dia telah terbenam menjadi gundukan tanah. Panah pesakitan telah menghujamku di bawah keharuman kamboja rumah terakhirnya. Kuakui kusalah tak membaca tanda dalam seminggu sebelum kepergiannya dan kuakui kusalah, kumencintainya, tapi tak punya kekuatan untuk mencium saat terakhirnya.
Sekarang aku hanya bisa menangis, menyesali sebuah abjad kerinduan yang tersusun rapi dalam hatiku. Aku ingin berteriak, tapi dia telah terbenam menjadi gundukan tanah. Panah pesakitan telah menghujamku di bawah keharuman kamboja rumah terakhirnya. Kuakui kusalah tak membaca tanda dalam seminggu sebelum kepergiannya dan kuakui kusalah, kumencintainya, tapi tak punya kekuatan untuk mencium saat terakhirnya.
Aku Mundur!
Seperti disambar petir, ya… mungkin begitu rasanya. Bahkan lebih! Untuk dilukiskan mana bisa karena ini masalah perasaan. Untuk diungkapkan, uhhh! Seorang tempatku mengadu pun bakal menyalahkan aku, berani- beraninya aku jatuh cinta dengan aristokrat sempurna sepertimu. Mana mungkin? Nihil. Sia- sia.
Pertemuan kita memang singkat. Terlalu. Hanya empat kali bertatap wajah. Aku ingat di pertemuan terakhir itu aku mulai merasakan perasaan cinta meskipun tak terurai sepenuhnya. Kupandang kau sebagai lelaki yang berprinsip kuat atas pendapatmu, berprinsip kuat atas argumen yang keluar dari neuron sarafmu. Kuakui itu yang mebuat kucinta. Tapi… ada Allah. Dia yang mengatur cinta ini lagi- lagi kandas sebelum masuk musim semi. Ini takdirku yang berkata. Tak kusesali. Kuambil hikmahnya. Mungkin pertemuan yang terlalu lama bisa membuatku zina hati karena kuyakin kau pulalah yang menjadi sosok bayangan yang selalu mengganggu tidurku. Kuresapi… akhirnya hanya kutatap kau dari kejauhan. Tak ada yang tahu. Kututup semua dengan jala kabut. Dan hari ini… ketika seorang sahabat yang kucintai mengakui perasaannya tentangmu, aku menangis. Aku ingin merobek jala itu dan menyatakan padanya bahwa aku yang pertama mencintaimu. Tolong!!! Tapi, sayang bibir ini mangatup kelu. Aku mundur dengan perasaan dan tatapan dari jauhku. Aku mundur. AKU MUNDUR!!!
Berbahagialah dengan memoriku. Berbahagialah dengannya yang sempat kucintai. Barakallahu! Berbahagialah cinta pertamaku... Berbahagialah bersama sahabatku...
Pertemuan kita memang singkat. Terlalu. Hanya empat kali bertatap wajah. Aku ingat di pertemuan terakhir itu aku mulai merasakan perasaan cinta meskipun tak terurai sepenuhnya. Kupandang kau sebagai lelaki yang berprinsip kuat atas pendapatmu, berprinsip kuat atas argumen yang keluar dari neuron sarafmu. Kuakui itu yang mebuat kucinta. Tapi… ada Allah. Dia yang mengatur cinta ini lagi- lagi kandas sebelum masuk musim semi. Ini takdirku yang berkata. Tak kusesali. Kuambil hikmahnya. Mungkin pertemuan yang terlalu lama bisa membuatku zina hati karena kuyakin kau pulalah yang menjadi sosok bayangan yang selalu mengganggu tidurku. Kuresapi… akhirnya hanya kutatap kau dari kejauhan. Tak ada yang tahu. Kututup semua dengan jala kabut. Dan hari ini… ketika seorang sahabat yang kucintai mengakui perasaannya tentangmu, aku menangis. Aku ingin merobek jala itu dan menyatakan padanya bahwa aku yang pertama mencintaimu. Tolong!!! Tapi, sayang bibir ini mangatup kelu. Aku mundur dengan perasaan dan tatapan dari jauhku. Aku mundur. AKU MUNDUR!!!
Berbahagialah dengan memoriku. Berbahagialah dengannya yang sempat kucintai. Barakallahu! Berbahagialah cinta pertamaku... Berbahagialah bersama sahabatku...
Untittled
Tuhan tidak akan menguji lebih dari kemampuan umat- Nya, kupegang kata itu erat- erat dalam hati kemudian kupaksa otakku untuk mengakumulasikan tiap abjadnya ke seluruh urat sarafku. Karena itu, saat kutahu apa yang kurasakan sekarang benar, mungkin aku bisa lebih tegar dari_______ yang divonis hidup beberapa minggu lagi karena kanker rahim. Aku mungkin bisa melebihi ketegaran seorang ibu yang ditinggal amti bayinya padahal mereka telah menunggu bertahun- tahun lamanya. AKU BISA! Tapi, jujur aku tak bisa meninggalkan dunia dalam keranda hidup kekal jika aku belum memberikan persembahan terindah untuk seorang wanita yang telah melahirkanku.
Langganan:
Komentar (Atom)





