Minggu, 26 April 2009

My Beloved Brother, For You...

0 komentar
Mengapa harus dia? Mungkin aku salah, jika bertanya dan menggerutu meminta penjelasan pada Tuhan karena ini telah ditulis dalam takdir. Dia yang terpilih untuk menjadi daun gugur di senja !0 Agustus 2008. Ya... dia terpilih, maka aku tak bisa berkata banyak lagi. Tapi bukan juga sekedar tak ikhlas. Aku hanya sesak, mengapa Tuhan tak memberi sebulan atau sekedar seperempat jam untuk men-clear-kan hubungan awal kami? Mengapa Tuhan tak memberi waktu untukku menyadari dia tak tak senakal yang kupikirkan.

Sekarang aku hanya bisa menangis, menyesali sebuah abjad kerinduan yang tersusun rapi dalam hatiku. Aku ingin berteriak, tapi dia telah terbenam menjadi gundukan tanah. Panah pesakitan telah menghujamku di bawah keharuman kamboja rumah terakhirnya. Kuakui kusalah tak membaca tanda dalam seminggu sebelum kepergiannya dan kuakui kusalah, kumencintainya, tapi tak punya kekuatan untuk mencium saat terakhirnya.

Aku Mundur!

0 komentar
Seperti disambar petir, ya… mungkin begitu rasanya. Bahkan lebih! Untuk dilukiskan mana bisa karena ini masalah perasaan. Untuk diungkapkan, uhhh! Seorang tempatku mengadu pun bakal menyalahkan aku, berani- beraninya aku jatuh cinta dengan aristokrat sempurna sepertimu. Mana mungkin? Nihil. Sia- sia.

Pertemuan kita memang singkat. Terlalu. Hanya empat kali bertatap wajah. Aku ingat di pertemuan terakhir itu aku mulai merasakan perasaan cinta meskipun tak terurai sepenuhnya. Kupandang kau sebagai lelaki yang berprinsip kuat atas pendapatmu, berprinsip kuat atas argumen yang keluar dari neuron sarafmu. Kuakui itu yang mebuat kucinta. Tapi… ada Allah. Dia yang mengatur cinta ini lagi- lagi kandas sebelum masuk musim semi. Ini takdirku yang berkata. Tak kusesali. Kuambil hikmahnya. Mungkin pertemuan yang terlalu lama bisa membuatku zina hati karena kuyakin kau pulalah yang menjadi sosok bayangan yang selalu mengganggu tidurku. Kuresapi… akhirnya hanya kutatap kau dari kejauhan. Tak ada yang tahu. Kututup semua dengan jala kabut. Dan hari ini… ketika seorang sahabat yang kucintai mengakui perasaannya tentangmu, aku menangis. Aku ingin merobek jala itu dan menyatakan padanya bahwa aku yang pertama mencintaimu. Tolong!!! Tapi, sayang bibir ini mangatup kelu. Aku mundur dengan perasaan dan tatapan dari jauhku. Aku mundur. AKU MUNDUR!!!

Berbahagialah dengan memoriku. Berbahagialah dengannya yang sempat kucintai. Barakallahu! Berbahagialah cinta pertamaku... Berbahagialah bersama sahabatku...

Untittled

0 komentar
Tuhan tidak akan menguji lebih dari kemampuan umat- Nya, kupegang kata itu erat- erat dalam hati kemudian kupaksa otakku untuk mengakumulasikan tiap abjadnya ke seluruh urat sarafku. Karena itu, saat kutahu apa yang kurasakan sekarang benar, mungkin aku bisa lebih tegar dari_______ yang divonis hidup beberapa minggu lagi karena kanker rahim. Aku mungkin bisa melebihi ketegaran seorang ibu yang ditinggal amti bayinya padahal mereka telah menunggu bertahun- tahun lamanya. AKU BISA! Tapi, jujur aku tak bisa meninggalkan dunia dalam keranda hidup kekal jika aku belum memberikan persembahan terindah untuk seorang wanita yang telah melahirkanku.

I Say...

0 komentar
Aku mencintaimu,
tapi alam tak memberiku waktu untukku mengungkapkannya
tapi alam tak memberi waktu untukku melelehkan kebekuan kata
di balik bibirku
Aku merindukanmu,
tapi alam tak memberi waktu untukku meneriakkannya
tapi alam tak memberi waktu untukku menjelaskan bahwa:
perasaan ini sudah sangat lama
sangat lama!
mungkin jauh sebelum Adan dan Hawa diciptakan!

Dan Kukatakan...

0 komentar
Aku menyayangimu, sangat
tapi mungkin kau tak tahu
bahkan Batara Kamjaya dan Dewi Ratih pun tak tahu
mengapa?
karena semua kubenam jauh dalam lautan
karena semua kutanam jauh dalam lapisan tanah
karena semua telah kuterbangkan jauh bersama burung- burng manyar

Aku mencintaimu, terlalu
tapi kau tak sadar
mungkin hanya Gusti Allah yang sadar
mangapa?
karena aku mengerti, aku ini bukan Sinyok Mangkunegara
karena aku totok
aku sejati, bukan bangsawan peranakan
aku abdimu
tak mungkin terpandang
tak mungkin sejajar denganmu yang sempurna
kau adalah DEN RARA’

Minggu, 05 April 2009

0 komentar
Aku mungkin bodoh! Itu yang kupikir saat mengingat kenangan lima tahun yang lalu. Ya... mungkin terlalu lugu untuk memahami bahwa kau sebenarnya cinta. Afwan! Bukannya aku tak mencintaimu, tapi semua tak kubaca dari kelakuanmu yang sering salah tingkah. Kuakui kau lelaki yang hadir begitu saja tanpa kuduga. Seperti menyelip berliku. Kau langsung di hadapanku. Tatapan pertama di hari itu membuatku bergidik, ini bukan perasaan biasa, ini apa yang tetua kita sebut sabagai makna sakral, CINTA! Tapi, sekali lagi mungkin aku yang terlalu bodoh dan lugu. Aku mengingkari semuanya.

Kita punya kesenangan yang sama. Kau pandai merajut kata dan aku bahagia mengenalmu. Ujung kata, kita jalin hubungan tanpa status ini dalam sebuah tulisan tangan. Kita bertukar surat yang penuh dengan kata puitis. Kita berharap salaing mengoreksi tulisan, padahal sebenarnya kita salang mengagumi lewat itu. Kita berkhayal sang empunya tulisan berada di hadapan kita masing- masing. Aku ingat semuanya kan? Hah... bagaimana mencucinya, apalagi sekarang kau kembali mengetuk meski dalam kisah yang berbeda.

Aku tak ingin membukukan kenangan yang terlalu banyak dalam periode Asmaraloka-ku. Cukup kukenang dalam hati. Kukenang saat aku menangis ketika kau singgung, kukenang ketika kau bertukar sua dengan alinea kata maaf, kukenang suara lembutmu yang selalu membuat bibirku kelu untuk berkata tidak.

Afwan, kuungkap ini. Bukan ingin menumbuhkan sinyal- sinyal yang dulu nyaris dibangun. Aku hanya ingin mengenang sosok yang karena kecerobohanku, kusakiti hatinya, karena kecerobohanku kuhancurkan perasaanku sendiri. Jangan memaksaku untuk segera mencuci semuanya. Kau yang pertama...
 

asmaraloka Copyright © 2008 Black Brown Art Template by Ipiet's Blogger Template